Cawang yang Dulu Penuh Pohon Kini Berubah jadi Hutan Beton

Cawang yang Dulu Penuh Pohon Kini Berubah jadi Hutan Beton

Wilayah Cawang (Detha Arya Tifada/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Membaca buku rekaan Jean Gelman Taylor berjudul Kehidupan Sosial di Batavia terkait perkembangan masyarakat kolonial pada abad 17 di Batavia membuat kami tertarik mempelajari perkembangan kampung-kampung yang ada di dalam Batavia maupun di luarnya.

Betapa tidak. Dalam buku itu, Gelman mengungkap bahwa “Pada akhir abad ke-17 mereka (kompeni) menghadirkan masyarakat yang jauh berbeda dari masyarakat pada tahun-tahun pertama abad tersebut. Jumlah mereka yang besar berkat kemunculan kota-kota, jalan-jalan pembangunan gereja-gereja, dan rumah sakit, serta pemerintahan yang jelas.”

Dari fakta di atas, kita dapat melihat bahwa saat itu kongsi dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) telah melebarkan sayap, bahkan sudah melampaui batas dari dinding-dinding kota (sekarang Kota Tua Jakarta) untuk segera memperluas kekuasaan, sekaligus membuka tanah-tanah perkebunan baru.

Patut diduga, hal inilah yang membuat kekuasaan VOC meluas hingga ke Timur Jakarta. Wilayah Cawang, misalnya. Menurut buku Main Pukulan Pencak Silat Khas Betawi yang direka oleh G.J Nawi, kawasan itu dulunya merupakan bagian dari tanah perkebunan partikelir Tandjoeng Oost yang dikuasai tuan tanah bernama Pieter Van Den Velde, yang turut pula menguasai tanah lainnya seperti Tanjung Timur, Cikeas, Pondok Terong, Tanjung Priok, dan Cililitan.

Konon, nama Cawang sendiri diambil dari seorang letnan Melayu yang mengabdi pada kompeni bernama Wan Mohammad Anwar. Oleh pasukannya, Letnan Melayu tadi akrab disapa Ce’ Awang. Nama itu lambat laun berubah menjadi Cawang. Saat itu Ce’ Awang dan pasukannya bermukim di daerah tersebut. Paripurnalah nama Cawang yang kini menjadi sebuah kelurahan di Jakarta Timur.

Tak habis sampai situ. Sekitar awal abad ke-20, nama Cawang kembali menjadi trending topic di masyakarat. Bukan karena adanya macet dan banjir seperti sekarang. Tetapi karena di sana bermukim seorang pesilat beraliran kebatinan bernama Sairin, alias bapak cungok.

Seperti yang diungkap oleh Rachmat Ruchiat dalam bukunya Asal-usul Nama Tempat di Jakarta. Sairin dituduh oleh pemerintah Kolonial Belanda sebagai dalang dari ragam kerusuhan, seperti terlibat dalam pemberontokan Entong Gendut di Condet pada tahun 1916, serta sebagai dalang kerusuhan Tangerang pada 1924.

Melalui kejadian itulah nama Cawang semakin dikenal di seantero Batavia, bahkan hingga saat ini. Cawang yang ‘zaman now’ menjadi begitu kekinian dengan kombinasi hunian tempat tinggal: kampung, slum area, kawasan komersial, apartemen menjulang, terminal bayangan yang mempertemukan komuter dari kawasan penyangga ibu kota.

Singkat cerita, Cawang yang semula daerah perkebunan kini menjadi ‘titik simpul’ jaringan transportasi area Jabodetabek. Terlebih saat Stasiun Transit LRT (Light Rail Transportation) telah selesai dibangun, Cawang akan hingar bingar dengan arus para pelaju yang datang dari Bekasi, Bogor, Depok, dan Cibubur.

Banjir dan macet

Tak ayal karena telah melampaui daya dukung dan daya panggul lingkungan, Cawang yang dulunya perkebunan dengan banyak pepohonan yang rindang, kini termasyhur sebagai kawasan ‘horor’ yang akrab dengan kemacetan dan banjir.

Pepohonan rindang nan hijau yang dulu menghiasi kawasan itu kini berubah wujud menjadi apartemen, ruko, rumah sakit, perhotelan, pusat perbelanjaan, serta beberapa titik sentra tongkrongan anak muda, meski tak se-hits daerah Kemang, SCBD, Senayan, ataupun Tebet sebagai pusat tongkrongan anak muda.

Masalah yang berkembang pun kian bertambah. Semisal kemacetan, polusi, bertambahnya bangunan serta banjir yang terakhir melanda Cawang baru-baru ini. Seperti dilansir Kompas, banjir menyebabkan rumah terendam, kendaraan mogok, dan tol ditutup.

Sejatinya, tiap kawasan, khususnya Cawang, semua elemen masyarakat pasti menginginkan kawasan yang sehat, aman, produktif dan berkelanjutan. Bahkan, hal itu bukan cuma impian dari masyarakat. Pemerintah pun melalui perpanjangan tangan Direktorat Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang pun mengimpikan hal yang sama. Itu dibuktikan dengan rencana revisi Perpres Nomor 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur (Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi, Puncak, & Cianjur). 

Kapan kiranya impian itu terwujud? Yang jelas waktu terus berjalan. Bagi masyarakat, rasanya kritik pada pemangku kekuasaan tak cukup. Memberi masukan dan solusi jadi penting. Syukur-syukur jika masyarakat bisa mengamalkan secara mandiri perilaku-perilaku yang dapat mengurangi potensi banjir.

Menggunakan nalar untuk menimbang hal yang benar dan salah amat penting. Seperti yang diutarakan ilmuwan sosial Erich Fromm: Dalam Brahmanisme juga Buddhisme dan Taoisme, tujuan tertinggi agama bukanlah keyakinan yang benar, tetapi tindakan yang benar.