Mengetuk Pintu Mereka yang Bertahan di Tengah Banjir

Mengetuk Pintu Mereka yang Bertahan di Tengah Banjir

Sekelompok warga menetap di tengah banjir di Ciledug Indah, Tangerang (Yudhistira Mahabharata/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Jakarta kebanjiran. Masyarakat Bekasi bernasib sama. Di Tangerang, air tak juga surut. Kamis sore, 2 Desember, warga Ciledug Indah masih berjibaku dalam rendaman kala banjir di sejumlah wilayah mulai surut. Meski begitu, ketimbang mengungsi, ratusan dari mereka memilih bertahan di rumah. Kemarin, kami mendatangi rumah-rumah warga untuk mendalami alasan mengapa mereka memilih risiko bertahan di tengah kepungan air.

 [Klik untuk Menambah Rasa]

Sekitar pukul 17.00 WIB, kaki kami mulai menyentuh air. Gapura besar bertulis "Ciledug Indah" tempat kami memeloroti celana panjang sudah ada di belakang kami saat itu, beberapa meter dari tempat kami berdiri. Kami berjalan pelan, melangkahkan kaki yang memicu ombak tak karuan di sekitarnya. Makin jauh melangkah, kaki kami semakin terbenam di dalam air berwarna cokelat pekat. Seluruh betis kami kini di bawah air.

Kami bukan satu-satunya yang berjalan menembus banjir. Di sekitar kami, sejumlah warga masyarakat juga tampak. Beberapa berjalan dalam arah yang berlawanan dengan kami. Tiga remaja menenteng sandal dengan batang rokok menyala di tangan lainnya atau seorang bapak terlihat menyeret tangan seorang anak yang berenang berbalut ban.

Seorang warga menarik anak yang berenang dengan ban di tengah banjir (Yudhistira Mahabharata/VOI)

Lainnya berjalan ke arah yang sama dengan kami. Rata-rata dari mereka membawa bungkusan-bungkusan bantuan di kantong plastik besar berwarna merah. Memang, di sekitar gapura perumahan, otoritas setempat mendirikan sebuah posko yang jadi pusat konsentrasi bantuan. Warga perumahan yang membutuhkan dapat mengambil logistik di posko tersebut. Usai mendapat logistik, kebanyakan warga kembali ke rumahnya yang terkepung banjir.

"Mumpung air surut (mengambil bantuan ke posko). Ya, bantuannya saja (butuh). Evakuasi sih kami masih aman di lantai dua. Ada yang mengungsi-mengungsi itu biasanya yang rumahnya enggak tingkat," kata seorang warga, Toto yang berjalan di sebelah kami sembari memeluk plastik berisi makanan instan dan air minum, Kamis, 2 Januari.

Hari mulai gelap. Bau asap tercium menyebar di sekitar. Kami mencari tahu sumber asap dan kemudian mendapati sekelompok warga yang menetap di atap bangunan sebuah bengkel. Di atas bangunan kecil berwarna hijau itu, mereka membakar sampah untuk menghangatkan diri. Sebuah hal yang jelas berbahaya. Kami pun bertanya kenapa mereka tak mengungsi dan memilih menetap di atas bangunan.

"Enggak sempat ngungsi ... Ini (api) cuma untuk angetin badan," tutur seorang dari mereka singkat.

Kelompok warga yang bertahan di atap rumah (Yudhistira Mahabharata/VOI)

 

Gelap di bangunan percetakan

Suasana dalam bangunan percetakan Sunarto (Yudhistira Mahabharata/VOI)

Sebuah bangunan besar menarik perhatian kami. Pagarnya berwarna biru meninggi meski tak tampak kokoh. Pintu pagarnya terbuka lebar. Dari luar, samar-samar terlihat mesin-mesin besar di dalam bangunan. Kami masuk ke bangunan tersebut dan menemukan gelimpangan mesin cetak. Kami berjalan makin ke dalam, cahaya semakin hilang. Gelap gulita.

 [Klik untuk Menambah Rasa]

Di dalam, kami disambut seorang lelaki bernama Sunarto. Dengan sedikit bantuan cahaya dari telepon genggam, pria paruh baya itu membawa kami ke lantai dua bangunan. Di atas, rekannya yang lain menyambut kami. Sampai di atas, kami mendapati ruangan yang dipenuhi buku-buku pelajaran. Sangat penuh hingga hanya ada sedikit ruang untuk satu orang berlalu-lalang.

Sunarto mengatakan, ia dan rekannya terpaksa menetap lantaran diperintahkan oleh bosnya untuk menjaga percetakan, baik alat produksi atau pun buku-buku yang telah dicetak. Menurut Sunarto, sejak banjir melanda pada Rabu, 1 Januari, bosnya rutin mengirim bantuan makanan untuknya. Atas alasan itu juga Sunarto mengaku tak tertarik dengan bantuan yang disiapkan otoritas di posko-posko terdekat.

 "Bantuan, kalau bantuan dah mah saya dari bos sendiri. Kalau dari pemerintah, enggak saya. Ada di depan, cuma kitanya enggak ke sana. Dari bos juga sudah cukup lah," kata Sunarto.

Sunarto (Yudhistira Mahabharata/VOI)

 

Kendala evakuasi

Siang hari jauh sebelum kami sampai di percetakan yang dijaga Sunarto, kami berjalan susah payah menuju Ciledug Indah. Tak cuma air yang sempat menghambat jalan kami. Kehadiran warga masyarakat yang menonton banjir pun amat menyulitkan proses liputan kali ini. Bagi kami barangkali bukan perkara-perkara amat. Tapi, bagi ambulans, mobil SAR dan kegiatan evakuasi serta penyaluran bantuan, jalanan yang dipenuhi manusia jelas jadi hambatan.

Jalan menuju posko bantuan Ciledug Indah (Yudhistira Mahabharata/VOI)

Di perjalanan itu, kami melihat seorang ibu yang berteriak-teriak ke kerumunan massa, terutama para pengendara motor yang nekat menembus barikade. Ibu berkerudung putih dan berkemeja hitam putih motif catur itu mempertanyakan kehadiran banyak massa di sana. Ia juga mengkritisi perilaku masyarakat sekitar yang menjadikan bencana sebagai tontonan.

 "Mau ke mana? Pulang ke mana? Abang mau evakuasi atau mau apa? Kalau enggak berkepentingan, putar balik tolong. Kasihan yang mau evakuasi. Orang mau nolong jadi susah. Lagipula ini bukan tontonan juga. Putar balik, putar balik langsung. Putar balik saja semuanya!" seru sang ibu.

Perkara lain, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Bagus Puruhito mengatakan, evakuasi juga terkendala rendahnya kesadaran warga untuk mengungsi. Minimnya kesadaran mengungsi turut berdampak pada simpang siurnya pendataan jumlah pengungsi maupun mereka yang menetap di dalam rumah. Untuk itu, Basarnas terus disiagakan untuk memantau perkembangan situasi.

Kepala Basarnas Bagus Puruhito (Mahesa ARK/VOI)

 "Air sudah mulai surut. Namun, saya malam ini datang ke sini untuk memastikan mereka harus tetap melaksanakan pengawasan, patroli. Siapa tahu yang belum terevakuasi atau yang tadinya tidak mau terevakuasi, akhirnya menjadi mau. Itu harus jadi atensi kita," tutur Bagus ditemui di lokasi.

 "Segeralah untuk dievakuasi ke pengungsian, sehingga semua bisa dikontrol lebih mudah kalau disatukan di tempat pengungsian bersama-sama dengan yang lain," tambah Bagus.

Muara para korban

Pencarian kami untuk menjawab pertanyaan kenapa orang-orang ogah mengungsi membawa kami ke posko pengungsian sekitar. Selain tenda-tenda yang menyajikan makanan instan, otoritas memanfaatkan bangunan masjid untuk menampung para korban. Di masjid tersebut, para relawan membagikan nasi-nasi kotak. Situasi ramai meski masih terkendali.

Satu-satunya perkara yang dikeluhkan pengelola posko adalah banyaknya masyarakat sekitar yang ikut antre meski bukan korban banjir. "Ibu, malu dong. Bapak, tolong dong. Ini untuk yang bencana. Yang rumahnya enggak kebanjiran jangan ikut antre. Malu, dong," teriak seorang petugas dari kejauhan sembari membagikan nasi-nasi kotak.

Petugas berdebat dengan seorang warga (Mahesa ARK/VOI)

Di dalam bangunan masjid, para pengungsi nampak bertebaran. Dari beberapa yang kami tanyakan, rata-rata menyatakan tak bakal bermalam di masjid. Mereka mengaku hanya akan beristirahat sejenak usai mengonsumsi bantuan makanan yang mereka terima. "Pulang habis ini juga. Kami tidak tidur di sini," kata Didi yang menembus banjir untuk sampai ke posko bersama istri dan anaknya.

Situasi pengungsian di masjid sekitar Ciledug Indah (Yudhistira Mahabharata/VOI)

Selain ke pengungsian, muara berkumpulnya para korban adalah rumah sakit sekitar. Seorang pria lanjut usia yang dievakuasi dari dalam perumahan tampak lemas di atas perahu. Tubuhnya langsung digotong oleh tim gabungan. Sayang, sampai di daratan, pria itu harus menunggu ambulans --yang belum tersedia lantaran masih mengantar korban lain-- sebelum akhirnya diangkut ke rumah sakit terdekat. Menurut seorang petugas medis yang kami temui, rata-rata korban dilarikan ke Rumah Sakit Sari Asih atau Rumah Sakit Mulya, Ciledug.

Evakuasi seorang kakek di Ciledug Indah (Mahesa ARK/VOI)

Satu hari sebelum menginjakkan kaki di sana, seorang nenek meninggal di Ciledug Indah. Perempuan 75 tahun bernama Nining itu dikabarkan meninggal karena riwayat penyakit tertentu yang kambuh terpicu banjir. Hingga berita ini ditulis, setidaknya ada tiga orang meninggal dari banjir di Ciledug, Tangerang.

Selain Nining, seorang pria 53 tahun yang dikenal dengan nama Aceng juga meninggal. Terbaru, seorang warga mendapati neneknya tewas pagi tadi sekitar pukul 10.00 WIB ketika membersihkan rumah. Menurut otoritas, dugaan terkuat hingga hari ini, seluruh korban yang berusia di atas 50 tahun itu meninggal akibat kedinginan atau hipotermia. Dengan segala kondisi, apakah bertahan masih jadi pilihan baik?

Tag: Banjir