Menyelami Konsep Cinta dan Pernikahan dalam Taaruf

Menyelami Konsep Cinta dan Pernikahan dalam Taaruf

Ilustrasi foto (Jeff Balbalosa/Pixabay)

Bagikan:

Keputusan menikah adalah otoritas pribadi setiap orang. Setidaknya itu yang kita pelajari dari artikel "Keputusan Menikah adalah Otorisasi Setiap Orang". Masih bagian dari Tulisan Seri VOI, "Pernikahan Hari Ini", kali ini kita akan mendalami konsep cinta dan ikatan pernikahan dalam taaruf.

 

Setiap orang wajib menegakkan otoritas pribadi untuk menentukan segala keputusan yang akan diambil terkait pernikahan. Tak hanya menentukan kapan harus menikah. Jalan seseorang untuk menemukan cinta sejatinya juga harus dimerdekakan. Soal taaruf, misalnya.

Kami sadar, di tengah masyarakat yang tak begitu pandai memaknai kata cinta, taaruf bahkan bisa jadi perkara. Kami tak ingin terjebak dalam pemikiran penuh penghakiman. Sejak awal, sikap kami jelas. Pernikahan adalah otoritasasi penuh kebebasan, selama dilandasi dengan pertimbangan-pertimbangan matang. Maka, kami membahas persoalan ini bersama sejumlah praktisi dan pakar.

Indadari adalah penulis sekaligus pendiri Niqab Squad, sebuah komunitas perempuan yang berfokus menegakkan syariat, termasuk soal pencarian pasangan menikah. Kepada kami, Indadari menjelaskan konsep cinta dalam taaruf. Secara prinsip, taaruf adalah upaya seseorang menemukan pasangan hidup tanpa proses-proses yang melenceng dari prinsip syariat: pacaran.

Indadari menjelaskan, ada beberapa cara yang biasa dilakukan dalam taaruf. Salah satu cara yang paling umum dilakukan adalah saling bertukar riwayat hidup alias CV. Sama seperti orang melamar pekerjaan. Proses awal taaruf ini amat penting untuk menilai bibit, bebet, dan bobot calon pasangan.

"Taaruf itu kan perkenalan, ya. Taaruf itu tahap pertama seseorang ketika mau menikah ... Perkenalan itu kan banyak macamnya. Misalnya tukaran CV dulu kalau lewat perantara. Terus kalau udah tukaran CV, biodata, cocok misalnya, baru ke tahap berikutnya, yaitu nazhor," tutur Indadari dihubungi VOI, Senin, 23 Desember.

Nazhor sendiri adalah proses bagi seorang lelaki mengenal seorang perempuan yang ingin ia nikahi secara syariat. Secara prinsip, nazhor dilakukan untuk menumbuhkan ketertarikan seorang lelaki kepada perempuan. Namun, ada beberapa catatan dalam nazhor. Pertama, laki-laki itu harus tahu betul lamarannya akan diterima oleh sang perempuan.

Kedua, meski ditujukan untuk memancing ketertarikan, laki-laki hanya dapat melihat lima bagian tubuh perempuan dalam proses nazhor. Bagian-bagian itu adalah wajah, leher, kepala, al qadam --dari mata kaki hingga bawah-- dan al yadd --dari pergelangan tangan hingga jari. Selebihnya, tak diperbolehkan. Selain itu, proses nazhor juga harus disertai pendampingan.

Setelah nazhor, proses yang dilalui dalam taaruf adalah lamaran atau khitbah. Setelahnya, barulah akad nikah dapat dilakukan. "Nazhor itu melihat. Kayak ketemuan gitu, tapi enggak boleh berdua. Kan kalau Islam, enggak boleh berdua-duaan ... Jadi, biasanya datang ke rumahnya, lihat calonnya bersama keluarga atau temannya," tutur Indadari.

Konsep cinta dalam taaruf

Januari 2020 mendatang, Deviyanti dan suaminya, Anzar akan memasuki usia pernikahan ke-12. Belasan tahun sebelumnya, keduanya bahkan tak saling mengenal. Pernikahan mereka berawal dari aksi jodoh-menjodohkan di kalangan pertemanan. Suatu hari, keduanya memutuskan bertemu. Deviyanti ditemani kakaknya, sementara Anzar ditemani sahabatnya.

Pertemuan di sebuah restoran di salah satu pusat perbelanjaan itu berlangsung singkat. Namun, cukup untuk keduanya meneguhkan hati maju bersama dalam pernikahan. Tak ada cinta di hati keduanya saat itu. Deviyanti atau pun Anzar sama-sama meniatkan pernikahan mereka untuk keberkahan. Hari Minggu, tanggal 20 Januari 2008, keduanya memutuskan menikah. Pernikahan yang berkarunia dua anak bagi mereka berdua.

"Sebenarnya yang paling penting bagi kami adalah niat. Niat itu segalanya. Jika diniatkan untuk berkah Allah, Insyaallah, keberkahan yang kita dapat ... Toh, aku sama Mas Anzar enggak yang buta-buta banget. Setidaknya aku tahu pekerjaan dia dan keluarganya," tutur Deviyanti dihubungi VOI, Sabtu, 21 Desember.

Soal cinta, Deviyanti atau pun Anzar melihatnya sebagai hal yang tumbuh dari keterbiasaan. Lagipula, meski menyadari pentingnya cinta, mereka melihat komitmen sebagai kunci yang lebih krusial untuk sebuah hubungan pernikahan. "Itu kan (cinta) pada akhirnya kembali lagi, ya (ke niat). Itu (cinta) tumbuh kok lama kelamaan. Lagipula, yang penting kan niat awal dan pegang janji (komitmen)," kata Deviyanti.

Terkait ini, kami sempat mewawancarai psikolog dari Universitas Indonesia, Rose Mini. Ia sepakat, proses pencarian cinta sejati dapat dilakukan lewat berbagai jalan. Pun taaruf. Yang terpenting di mata Rose Mini sejatinya adalah proses mengenal satu sama lain. Dan jika dalam taaruf tak ada proses pengenalan secara emosional --sebagaimana yang dialami orang pacaran, maka setidaknya, setiap orang yang menjalani taaruf harus mengumpulkan informasi-informasi penting tentang calon pasangan.

"Kan sebetulnya kalau pacaran itu fungsinya untuk mengenal lebih jauh. Mengenal lebih jauh itu kan macam-macam caranya. Kalau zaman dulu kan bibit, bebet, bobot. Kalau kayak gitu, bisa kita lihat dari caranya orang itu bicara, tingkah laku. Tapi bisa juga lihat dari latar belakang keluarganya seperti apa," tutur Rose Mini beberapa waktu lalu.

Lagipula, dalam kacamata psikologi, proses pacaran tak pernah benar-benar menentukan kelanggengan sebuah pernikahan. Pernikahan di mata Rose Mini jauh lebih logis dari sekadar ikatan emosional yang biasanya dibangun sepasang kekasih yang diikat hubungan pacaran. Seperti yang dituturkan Deviyanti, komitmen adalah segalanya. Maka, ketimbang jalinan ikatan emosional, mengenal latar belakang jauh lebih penting.

Jika merujuk penjelasan Indadari, proses taaruf sejatinya tak pernah meninggalkan proses pengenalan latar belakang itu. "(Dalam taaruf) Tapi banyak juga yang memang sudah kenal, enggak pernah ketemu, akhirnya kenal cuma medsos doang, akhirnya ta'aruf, tukeran CV, terus ketemu, khitbah terus akad nikah," tutur Indadari.

Mengimani

Taaruf bukan jaminan sebuah pernikahan berjalan lancar. Dalam beberapa kasus, pernikahan taaruf juga kerap berujung pada berbagai kesulitan. Dan Indadari sadar bagaimana orang-orang melihat taaruf sebagai hal yang tak rasional. Namun, jika mendalami taaruf, sejatinya kita pasti akan kembali pada perkara keimanan. Taaruf, baginya adalah proses berserah diri demi keberkahan.

"Memang rasanya tidak menjamin rumah tangga akan bahagia. Walaupun banyak juga orang yang sudah pacaran juga tidak menjamin kan dia bahagia. Jadi, tergantung pada pribadi masing-masing saat menjalankan rumah tangga atau alasan dia kenapa dia menikah. dan nikah itu kayak hijrah kalau saya," tutur Indadari.

"Menurut saya, ya enggak perlu negatif juga. Cara orang menjemput jodohnya, ya terserah orangnya. Tapi, kalau di Islam kan ada prosesnya yang dianjurkan. Misal taaruf cara yang lebih baik. Mungkin mereka terbiasa dengan sekarang yang kalau dibilang pacaran kan pasti bertemu. Itu biasa memang," tambahnya.

Lebih lanjut, Indadari menjelaskan pandangannya soal konsep taaruf sebagai langkah mendekatkan diri pada Yang Maha Esa. Ada penekanan yang ia sampaikan, bahwa taaruf adalah proses religius sekaligus spiritual yang amat personal, tentang bagaimana seorang Muslim mendalami diri dan mengenal agamanya. Penekanan yang sejatinya mengingatkan kami pada keseluruhan narasi dalam tulisan seri kali ini. Bahwa mempersiapkan dan membangun kualitas diri adalah langkah krusial bagi setiap orang yang menuju gerbang pernikahan.

"Pernikahan itu gimana mereka memperbaiki diri perempuan atau laki-laki. Karena itu tadi, hukum jodoh pernikahan agama Islam itu, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Jadi tergantung orangnya masing-masing," kata Indadari.