Menerka Langkah Gibran dan PDIP di Pilkada Solo 2020

Menerka Langkah Gibran dan PDIP di Pilkada Solo 2020

Gibran Rakabuming (Instagram/@gibran_rakabuming)

Bagikan:

JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) belakangan ini menjadi sorotan publik. Sorotan muncul setelah Gibran Rakabuming Raka memilih untuk maju sebagai calon wali kota di Pilkada Solo 2020 melalui Partai Banteng.

Sabtu kemarin, putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini melakukan tes uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test calon Wali Kota Solo dari PDI Perjuangan. Tak hanya Gibran, rival separtainya yang juga Wakil Wali Kota Solo saat ini, Achmad Purnomo, juga mengikuti tes yang sama.

Menarik ditunggu, apakah Gibran Rakabuming Raka yang muncul di detik-detik akhir menjelang pendaftaran Bakal Calon Wali Kota Solo dari PDIP akan mendapat rekomendasi partai?

Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin memprediksi, Gibran mempunyai peluang besar mendapat rekomendasi dari Megawati Soekarnoputri sebagai calon Wali Kota Solo.

"Yang akan mendapat rekomendasi Gibran. Persentasenya mencapai 90 persen," tutur Ujang, saat dihubungi VOI, di Jakarta, Senin, 23 Desember.

Menurut Ujang, rekomendasi akan diberikan Magawati karena berdasarkan hitung-hitungan politiknya, Gibran berpeluang besar menang di Pilkada Solo 2024.

"Dia anak Jokowi. Anak presiden RI. Memiliki semua sumber daya untuk menang. Anaknya bupati saja kalau maju pilkada menang. Apalagi ini anak presiden. Banyak kekuatan yang akan membantunya," jelasnya.

Sebelum menjalani fit and proper test, Gibran menyebut dirinya juga sudah belajar dan mempersiapkan diri, termasuk membaca buku yang diberikan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepadanya beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, langkah Gibran tidak mulus. DPC PDIP Surakarta tidak bisa menerimanya. Alasannya, DPC PDIP sudah memutuskan untuk menyerahkan nama Achmad Purnomo yang dijagokan sebagai bakal calon wali kota. Pintu DPC tertutup, peluang Gibran belum kandas begitu saja. DPD PDIP Jawa Tengah membuka kesempatan dan akhirnya mendaftarkan dirinya lewat jalur DPD.

Tidak hanya itu, ada juga aturan yang mempersempit peluang Gibran. Ada persyaratan untuk kader yang ingin maju sebagai bakal calon kepala daerah yakni, minimal menjadi kader selama tiga tahun dan mendapat rekomendasi dari pengurus partai tempat calon tersebut berdomisili.

"Soal ada aturan internal harus pernah menjadi kader minimal selama tiga tahun dan pernah jadi pengurus di daerah, itu sih aturan internal yang bisa dilanggar, yang bisa direvisi. Dan faktanya banyak kader baru yang langsung maju di Pilkada," ucap Ujang.

Rival jadi kawan

Menurut Ujang, Megawati tidak akan membiarkan gonjang ganjing di internal partainya terus terjadi jelang Pilkada Solo 2020. Karena itu, bisa saja rekomendasi yang keluar adalah memasangkan Gibran dengan rivalnya Achmad Purnomo.

"Dan rivalnya bisa saja jadi wakilnya Gibran. Agar tidak terjadi gejolak dan konflik di internal PDIP Solo, maka menggabungkan Gibran dan rivalnya menjadi solusi dari PDIP," ucapnya.

Meski saat ini elektabilitas Gibran berada di bawah rivalnya, namun hal itu tidak permanen. Artinya, Gibran memiliki peluang untuk menyalip rivalnya. Apalagi, diprediksi elektabilitas akan terus naik.

"Elektabilitas Gibran akan merangkak naik dan akan mengalahkan rivalnya. Dan itu akan menjadi dasar PDIP merekomendasi Gibran dan rivalnya menjadi wakilnya Gibran. Sangat simpel membaca arah pergerakan Gibran dan PDIP di Solo," katanya.

Terkait dengan rekomendasi dari PDIP untuk Gibran, menurut Ujang, hanya soal menunggu waktu saja. Sebelumnya, Ketua DPP PDIP bidang Pemenangan Pemilu Bambang Wuryanto mengatakan, tidak mempermasalahkan langkah Gibran untuk manju dalam kontestasi Pilkada Solo 2020. Meski DPC Surakarta telah memiliki calon untuk diusung dalam kontastasi tersebut.

"Jadi enggak ada masalah. Bahwa kewenangan memberikan rekomendasi bagi paslon itu ada di tangan dewan partai yang dipimpin ibu ketua umum," katanya.

Menurut Bambang, hal-hal yang sangat khusus akan diambil keputusannya oleh Megawati secara langsung. Hal khusus yang dimaksud yaitu yang menyedot perhatian secara nasional. Bambang juga memastikan, tak ada perlakuan khusus bagi Gibran meskipun dirinya adalah anak presiden. Menurut dia, semua kandidat akan diperlakukan sama.

"Mohon izin tentu Mas Gibran tidak diberikan karpet merah," jelasnya.