أنشرها:

JAKARTA – Gedung Putih menunjukkan keseriusannya dalam mengambil saham Intel. Setelah rencana ini muncul pada 15 Agustus lalu, kini persentase saham yang ingin diambil pemerintah AS sudah terungkap.

Pemerintah AS ingin mengambil 10 persen saham dari perusahaan teknologi tersebut. Langkah ini akan dilakukan dengan mengkonversi sebagian atau seluruh dana hibah Chips Act yang telah dialokasikan untuk perusahaan tersebut.

Rencana pengambilah saham ini akan bernilai sekitar 10 miliar dolar AS (Rp162,3 triliun). Jumlah ini setara dengan dana hibah Chips Act senilai 10,9 miliar dolar AS (Rp176,9 triliun) yang dijadwalkan untuk Intel.

Sejumlah analis berpendapat bahwa intervensi ini dapat memberikan kesempatan bagi Intel dalam menghidupkan kembali bisnis pengecorannya. Namun, para analis ini juga ragu karena Intel masih memiliki peta jalan produk yang lemah dan perusahaan ini kesulitan dalam menarik pelanggan baru.

David Wagner, Kepala Manajer Ekuitas Aptus Capital Advisors, menyampaikan kekhawatirannya. Menurutnya, ada alasan yang kuat mengapa pemerintah AS ingin mengendalikan Intel.

“Fakta bahwa pemerintah AS turun tangan untuk menyelamatkan perusahaan Amerika terkemuka (menunjukkan) kemungkinan besar berarti posisi kompetitif Intel jauh lebih buruk,” ujar Wagner, dikutip dari Reuters pada Selasa, 19 Agustus.

Wagner mengaku ragu terhadap pemerintah yang menginvestasikan uang pajak ke dalam perusahaan swasta. Namun, bagi Wagner, langkah ini jauh lebih baik dibandingkan dengan menjadikan Intel sebagai entitas milik negara. 


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+