أنشرها:

JAKARTA - Meski investasi pada teknologi AI dan Industri 4.0 di Asia Pasifik terus meningkat, studi terbaru IBM mengungkapkan adanya kesenjangan besar antara ambisi dan realita di lapangan. 

Laporan berjudul “APAC AI-Driven Industry 4.0: Building Tomorrow’s Industries” menunjukkan bahwa banyak perusahaan telah berinvestasi lebih awal pada teknologi digital, terutama di bidang seperti desain dan rantai pasok. 

Meski 85% responden menilai diri mereka sebagai “Data-Driven” atau “AI-First,” penilaian objektif studi tersebut menemukan hanya 11% yang berada pada tahap kesiapan lebih tinggi (9% Data-Driven; 2% AI-First).

IBM menilai kesenjangan persepsi ini berpotensi membuat investasi strategis melenceng, karena para pengambil keputusan cenderung menyepelekan tantangan yang ada 

Studi tersebut mengidentifikasi sejumlah tantangan krusial yang masih membelit perusahaan. Sebagian besar (70%) organisasi belum memiliki strategi Industri 4.0 yang sepenuhnya terintegrasi, melainkan bergerak dengan rencana terfragmentasi atau sekadar uji coba terisolasi. 

Hambatan juga terlihat pada aspek sumber daya manusia, di mana hanya 26% yang menjalankan program peningkatan keterampilan atau manajemen perubahan secara formal, sehingga hanya 16% yang merasa siap dengan keahlian internal mereka. 

Eksekusi transformasi pun kerap terjebak di tingkat departemen, tanpa mekanisme berbagi pengetahuan lintas tim yang memadai, sehingga kolaborasi dan inovasi berjalan lambat.

Di sisi infrastruktur, modernisasi inti masih tertinggal, di mana hanya 40% yang telah mengadopsi predictive maintenance secara luas, dan hanya 37% yang memiliki visibilitas rantai pasok secara real-time. 

Selain itu, integrasi AI yang belum merata, karena mayoritas (63%) organisasi menempatkan teknologi ini pada proses yang terisolasi, bukan sebagai pilar strategis yang menopang operasi cerdas dari hulu ke hilir juga masih menjadi tantangan perusahaan. 

President Director IBM, Roy Kosasih, menegaskan bahwa jika perusahaan ingin bergerak menuju Industri 5.0, mereka harus mampu mengubah proofs of concept yang terfragmentasi menjadi solusi berskala perusahaan.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)