JAKARTA - Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan mengakui meskipun saat ini aturan terkait penerimaan tenaga kerja difabel sudah ada, namun realisasinya di lapangan masih jauh dari maksimal.
Aturan tersebut mengamanatkan kuota minimal 2 persen untuk penyandang disabilitas di instansi pemerintahan dan 1 persen di sektor swasta.
Namun, menurut Veronica, implementasi kebijakan itu masih menghadapi sejumlah kendala.
"Sampai sekarang belum (semua terealisasi). Terkadang perusahaan bingung mencari rekan-rekan difabel karena mereka membutuhkan yang sudah memiliki keterampilan. Perlu ada pelatihan atau pendidikan khusus yang membekali mereka dengan keahlian tertentu," ujar Veronica seusai menghadiri acara Yayasan Autisma Indonesia di kantor Sekretariat Asean, Jakarta, Kamis, 22 Mei.
Veronica juga menyoroti tantangan khusus bagi penyandang autisme dalam memasuki dunia kerja.
Menurutnya, penyandang autisme membutuhkan pendekatan berbeda dan pelatihan yang disesuaikan dengan kondisi mereka.
"Kalau autisme itu memang harus didekati secara khusus. Kami harus memahami spektrum autisme ke arah mana. Namun, kami yakin, jika mereka diberi pelatihan, pendampingan dan pemahaman emosi baik, mereka pasti bisa dilatih dan bekerja secara produktif," ucapnya.
Veronica mengutarakan, pemerintah terus mengevaluasi efektivitas kebijakan dan mencari solusi untuk mengoptimalkan penerapannya.
Untuk itu, lanjut dia, pentingnya menyusun peta jalan atau roadmap jelas agar tujuan inklusivitas dan memberi keadilan bagi kaum difabel benar-benar tercapai.
"Jadi, ini yang sedang kami coba (buat) roadmap-nya apa yang tidak tercapai. Ini yang menjadi pilot-pilot kami supaya best practice-nya cepat gitu. Ada pemerhati di sini, pemerintah sudah ada penyediaan hukumnya, tinggal godok saja. Kami sedang lakukan juga dengan Kementerian Sosial (Kemensos)," tutur Veronica.
Meski demikian, Veronica enggan membeberkan informasi mengenai jumlah pekerja difabel dan autisme di lembaga pemerintahan ataupun swasta.
"Jadi, tadi kami bilang negara hadir dan negara mau coba melihat missing (yang hilang) apa, bisa kami coba upgrade lagi supaya wadah-wadah untuk para difabel dan juga autisme itu bisa ada," pungkasnya.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)