NUNUKAN – Suasana perbatasan Indonesia – Malaysia di Pulau Sebatik memanas. Ratusan warga bersama pemuda menggelar aksi demonstrasi di depan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sebatik, Sabtu 4 Oktober.
Massa menuntut pemerintah segera memfungsikan bangunan PLBN yang menelan anggaran lebih dari Rp200 miliar namun hingga kini tak kunjung difungsikan.
Puncak kekecewaan warga ditunjukkan dengan penyegelan pintu gerbang PLBN menggunakan spanduk dan poster berisi kritik keras kepada pejabat pusat, termasuk Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya serta anggota Komisi II DPR RI Deddy Sitorus yang beberapa waktu lalu berkunjung ke Sebatik.
Salah satu koordinator aksi, Dedy Kamsidi, menyebut kunjungan pejabat pusat selama ini hanya seremonial tanpa kepastian. “Tidak ada nilai positif. Warga hanya diberi janji, bukan solusi,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Isyak, perwakilan pemuda Sebatik. Ia menyebut penyegelan gerbang ini simbol nyata kekecewaan masyarakat. “Kami akan segel sampai ada kepastian. Anak-anak perbatasan ingin didengar, bukan hanya ditonton,” ujarnya.
Aksi ini mendapat dukungan dari anggota DPRD Nunukan Dapil Sebatik, termasuk Andi Mulyono, Ramsah, Nadia, Hamsing, dan Firman.
Menurut Andi Mulyono, terbengkalainya PLBN Sebatik merupakan bentuk nyata pemborosan uang negara. “Lebih dari Rp200 miliar sudah habis, tapi tidak ada manfaatnya bagi rakyat. Presiden Prabowo harus segera turun tangan dan menegur kementerian terkait,” kata Andi.
اقرأ أيضا:
Ia bahkan mendorong adanya proses hukum jika terbukti ada pihak yang lalai dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembangunan. “Jangan sampai uang rakyat hanya jadi proyek mangkrak,” tegasnya.
Aksi penyegelan dipastikan akan terus berlanjut hingga pemerintah pusat memberi jawaban resmi terkait nasib PLBN Sebatik yang hingga kini hanya berdiri megah tanpa fungsi.
Aksi penyegelan dipastikan akan terus berlanjut hingga pemerintah pusat memberi jawaban resmi terkait nasib PLBN Sebatik yang hingga kini hanya berdiri megah tanpa fungsi.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)