JAKARTA – Menteri Kebudayaan (Menbdu) Fadli Zon menegaskan budaya harus menjadi pilar utama dalam menghadapi krisis iklim dunia.
Pesan itu ia sampaikan saat pertemuan tingkat tinggi Menteri Kebudayaan dalam koalisi Group of Friends for Culture-Based Climate Action (GFCBCA) di rangkaian UNESCO MONDIACULT 2025, Barcelona, Spanyol, Senin 29 September.
Koalisi beranggotakan 47 negara ini dibentuk Uni Emirat Arab dan Brasil pada COP28 Dubai. Indonesia resmi bergabung sejak Mei 2025.
“Indonesia bangga menjadi bagian dari jaringan global ini. Sebagai kementerian yang baru berdiri, kami langsung mendukung inisiatif ini karena yakin budaya harus menjadi pilar ketahanan iklim global,” kata Menbud Fadli.
Menurutnya, krisis iklim sejatinya adalah krisis budaya. “Yang terancam bukan hanya ekosistem, tetapi juga identitas, warisan, dan pengetahuan lokal yang menopang peradaban,” ujarnya.
Menbud Fadli menyinggung risiko nyata yang dihadapi Indonesia: pelapukan bebatuan candi, kerusakan situs prasejarah dekat tambang, hingga ancaman pada tradisi turun-temurun.
“Setiap aktivitas di sekitar situs budaya harus berperspektif pelestarian. Iklim berubah, candi dan gua prasejarah ikut terancam. Inilah alasan budaya harus masuk dalam agenda iklim, nasional maupun global,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kearifan lokal sebagai infrastruktur adaptasi: filosofi Tri Hita Karana di Bali, praktik Sasi di Maluku dan Papua, Menumbai di Riau, serta Arat Sabulungan di Mentawai. “Semua itu menegaskan keseimbangan manusia dan alam melalui hukum adat,” tuturnya.
اقرأ أيضا:
Pertemuan menghasilkan Deklarasi Barcelona yang menegaskan budaya sebagai aset rentan sekaligus instrumen strategis adaptasi iklim.
Menteri Kebudayaan Spanyol, Ernest Urtasun, menyebut pertemuan ini momentum penting. Menteri Kebudayaan Brasil, Margareth Menezez, juga menyambut partisipasi Indonesia. “Selamat datang, Menteri Fadli. Kehadiran Anda memperkuat suara kita untuk memasukkan budaya dalam agenda iklim COP30 di Brasil,” katanya.
Fadli menegaskan partisipasi Indonesia merupakan bagian penting diplomasi budaya. “Di tingkat global, budaya tidak boleh dianggap isu pinggiran, tapi arus utama dalam agenda iklim dan pembangunan berkelanjutan pasca-2030. Diplomasi budaya adalah instrumen strategis untuk menyuarakan ini,” ucapnya.
Kementerian Kebudayaan, lanjut Fadli, akan terus memperluas peran Indonesia di jejaring internasional. “Inilah cara kita menjaga warisan, menginspirasi dunia, dan memastikan budaya menjadi solusi krisis iklim bagi generasi hari ini dan yang akan datang,” pungkasnya
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)