PT Tritech-Asian Gateway Tandatangani Perjanjian Olah Sampah Jadi Bahan Bakar Alternatif
JAKARTA - CEO PT Tritech Donny Witono mengumumkan penandatanganan Co-Development Agreement (CDA) dengan Asian Gateway Corporation Jepang, yang diwakili Tomonori Kimura selaku CEO. Penandatanganan dilakukan di Jakarta pada Senin, 6 Juli 2026.
CDA ini menjadi kerangka awal kerja sama antara para pihak untuk melakukan due diligence proyek, pertukaran informasi yang diperlukan, serta persiapan potensi kerja sama jangka panjang untuk pengolahan limbah menjadi sustainable aviation fuel/SAF.
“Penandatanganan ini mencerminkan komitmen PT Tritech untuk membangun kolaborasi internasional yang kredibel dalam pengembangan proyek. Kami menyambut Asian Gateway sebagai mitra strategis dalam proses due diligence dan persiapan proposal,” ujar CEO PT Tritech Donny Witono.
Sementarra CEO Asian Gateway Tomonori Kimura menyampaikan, “Kami senang dapat memformalkan kerja sama awal dengan PT Tritech di Jakarta. Melalui CDA ini, kedua pihak dapat bekerja secara terstruktur dan transparan untuk mengevaluasi kelayakan proyek serta menyiapkan dokumentasi yang dibutuhkan.”
CDA ini awal dari dasar membangun kolaborasi yang lebih luas dan jangka panjang, selain SAF juga termasuk Renewable Energi berbasis Tenaga Surya, Battery Energi Storage System, Carbon Credit dan Tokenization berbasis Proyek Renewable Energy
PT Tritech adalah perusahaan Indonesia yang berfokus pada pengembangan peluang proyek teknologi terkini khususnya di bidang energi terbarukan bersama para mitra strategis terpilih.
AG sendiri adalah perusahaan di bidang renewable energy / carbon finance. Strategi mereka yakni “Reduce, Generate, Circulate,” dengan fokus pada pendanaan proyek, MRV, penerbitan kredit, dan monetisasi melalui JTCF (Just Transition Carbon Facility) serta proyek JCM (Join Credit Mechanism) lintas negara.
Kedua perusahaan ini nantinya akan mengolah Sampah dari Tempat Pembuangan Sampah Akhir Perkotaan atau MSW / Municipal Solid Waste menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) dan akhirnya melalui teknologi terkini diolah untuk menghasilkan SAF (Sustainable Aviation Fuel) yaitu bahan bakar untuk penerbangan yang ramah lingkungan.
SAF sendiri telah ditetapkan oleh Badan Dunia ICAO (International Civil Aviation Organization dan Pemerintah Indonesia. Rio Permana, S.T., dari Direktorat Keamanan Penerbangan Kementrian Perhubungan mengatakan SAF khususnya bagi transportasi udara telah menjadi keharusan bagi setiap pesawat terbang yang beroperasi baik nasional maupun internasional.
Rio Permana menilai inisiatif untuk mulai dirintis dari kedua Perusahaan ini akan mendorong percepatan Indonesia untuk mencapai target Net Zero Carbon segera.
Di bawah program Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA), ICAO mendefinisikan SAF sebagai bahan bakar aviasi dari bahan baku terbarukan atau limbah yang memenuhi kriteria keberlanjutan ketat untuk dekarbonisasi penerbangan