TMMIN: Industri Otomotif RI Masih Resilien meski Penjualan Kendaraan Turun

JAKARTA - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menilai, industri otomotif dan komponen nasional masih memiliki daya tahan kuat di tengah perlambatan penjualan kendaraan dan berbagai tantangan global. Besarnya pasar domestik serta kinerja ekspor disebut-sebut masih menjadi penopang utama industri.

Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengakui, penjualan kendaraan memang mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir, sehingga turut menekan industri komponen. Namun, kondisi tersebut belum mengindikasikan pelemahan fundamental sektor otomotif.

"Industri otomotif itu punya resiliensi bagus. Kami punya pasar ekspor dan pasar domestik kami juga masih besar," ujar Bob dalam keterangan tertulis, Senin, 29 Juni.

Bob menjelaskan, industri komponen saat ini menghadapi tekanan karena merupakan sektor padat modal sekaligus padat karya. Kenaikan biaya tenaga kerja, tarif energi hingga kebutuhan investasi untuk modernisasi fasilitas produksi menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha.

Selain itu, pelaku industri komponen kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) juga masih menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah. Pasalnya, berbagai insentif saat ini lebih banyak diarahkan kepada kendaraan listrik, sementara rantai pasok komponen kendaraan listrik masih didominasi negara lain.

Menurut Bob, kepastian kebijakan dibutuhkan agar industri memiliki keyakinan untuk terus berinvestasi, termasuk memperbarui teknologi dan meningkatkan efisiensi produksi.

Di sisi lain, Bob membantah kabar yang menyebut sejumlah perusahaan komponen otomotif akan merelokasi investasinya dari Indonesia. Berdasarkan penelusuran pemerintah, informasi tersebut tidak terbukti.

Meski begitu, Bob tak menampik perusahaan-perusahaan multinasional saat ini tengah mengevaluasi strategi bisnis dan peta industri otomotif di kawasan ASEAN. Dalam proses tersebut, daya saing, ekosistem industri serta kebijakan investasi masing-masing negara menjadi pertimbangan utama.

Dia bilang, Vietnam memang semakin menarik bagi investor berkat pertumbuhan ekonomi dan berbagai insentif investasi. Namun, Indonesia masih memiliki keunggulan berupa pasar otomotif terbesar di ASEAN dengan penjualan mendekati satu juta unit per tahun serta ekspor kendaraan yang mencapai sekitar 500.000 unit.

"Sejauh ini kami diuntungkan karena market kami lumayan besar. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospeknya ke depan," ucap dia.

Lebih lanjut, kata Bob, Asia Tenggara kini telah berkembang menjadi salah satu basis produksi global, tidak hanya untuk industri otomotif, tetapi juga elektronik dan manufaktur lainnya. Karena itu, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing melalui perbaikan iklim investasi dan peningkatan orientasi ekspor.