Indonesia Ingin Memiliki Kerja Sama dengan Kawasan Mekong

JAKARTA - Indonesia memiliki keinginan untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara di Kawasan Mekong secara keseluruhan, selain kerja sama bilateral, melirik potensi negara-negara di luar mitra tradisional Indonesia, kata Duta Besar RI untuk Kamboja Santo Darmosumarto.

Membentang sepanjang 4.350 kilometer, Kawasan Mekong memiliki banyak potensi yang bisa dikerjasamakan lewat kemitraan Indonesia dengan negara-negara di kawasan tersebut.

"Secara bilateral kita punya hubungan misalnya dengan Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos," kata Dubes Santo  di sela-sela kegiatan "The 2nd Indonesia-Mekong Basin Connect Forum: Energy Security Cooperation on the Region" yang diadakan di Kawasan Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten Kamis 16 Oktober.

"Tapi kita ingin bagaimana kita bisa bareng-barang mengangkat profil negara itu untuk kemudian bermitra," lanjutnya.

Lebih jauh Dubes Santo mengakui, tidak mudah untuk membawa bisnis Indonesia ke negara-negara di Kawasan Mekong.

Menurutnya, penting untuk memperkenalkan Kawasan Mekong sebagai area yang menguntungkan bagi bisnis Indonesia, apakah itu trading, investasi, connectivity, energi dan lainnya.

Selama ini Indonesia melihat kawasan di luar, seperti fokus pada China, Jepang, Korea Selatan, Eropa hingga Amerika Serikat, kata Dubes Santo.

Jikapun melirik kawasan Asia Tenggara, masih berfokus pada mitra tradisional, seperti malaysia, Singapura. Tapi, mitra non-tradisional masih kurang, lanjutnya.

Kegiatan connect forum seperti yang digelar hari ini dikatakan bermanfaat untuk meningkatkan exposure kawasan-kawasan di Asia Tenggara yang sebelumnya kurang dilirik.

"China memiliki mekanisme kerja sama dengan Kawasan Mekong. Kita ingin mendorong bagaimana Indonesia sama seperti yang dilakukan china, memiliki mekanisme kerja sama dengan Kawasan Mekong keseluruhan, tidak hanya bilateral," urai Dubes Santo.

"Salah satu potensi dari Indonesia yang bisa kita bawa ke Kawasan Mekong untuk diperkenalkan adalah microhydropower. Saat ini microhydropower di Kamboja merupakan investasi dari China. Indonesia juga melakuannya, atau pun di bidang lain seperti solar panel," tandas DUbes Santo.