Penurunan Kemiskinan di Tengah Ekonomi Melambat Dinilai Aneh

JAKARTA – Penurunan tingkat kemiskinan yang baru saja diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) ini menuai sorotan dari kalangan ekonom.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin merasa aneh dengan angka tersebut. Pasalnya, berbagai indikator ekonomi justru menunjukkan pelemahan, salah satunya adalah tingkat pengangguran yang meningkat.

"Penurunan tingkat kemiskinan ini terjadi saat daya beli masyarakat menurun, tingkat pengangguran meningkat, penerimaan PPN melemah, dan pertumbuhan ekonomi melambat; ini sangat aneh," ujar Wijayanto kepada VOI, Jumat, 25 Juli.

Menurut Wijayanto, satu-satunya penjelasan yang masuk akal atas penurunan angka kemiskinan di tengah pelemahan ekonomi adalah meningkatnya peran bantuan sosial (bansos) dan stimulus ekonomi yang digelontorkan pemerintah sejak awal tahun.

"Jawaban yang paling memungkinkan adalah peran bansos yang meningkat dan insentif ekonomi pada Januari–Februari 2025 sebesar Rp 33 triliun," ujarnya.

Namun, dirinya menyakini bahwa perbaikan ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan perbaikan struktural dalam perekonomian nasional.

"Perbaikan ini sifatnya artifisial dan tidak berkelanjutan. Ketika stimulus dihentikan atau dikurangi, maka risiko lonjakan angka kemiskinan bisa kembali terjadi," kata Wijayanto.

Ia pun mendorong pemerintah untuk tidak hanya mengandalkan bansos sebagai solusi jangka pendek, melainkan mulai menata ulang strategi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan produktif.

BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan pada Maret 2025. Total penduduk miskin tercatat sebanyak 23,85 juta orang, turun 210.000 orang dibandingkan September 2024 yang berjumlah 24,06 juta orang.

"Jumlah penduduk miskin di Indonesia 23,85 juta orang atau turun 0,2 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2024. Dari sisi persentase, penduduk miskin mencapai 8,47 persen dari total populasi atau turun 0,10 persen poin," kata Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi persnya, Jumat.

Penurunan ini memperkuat tren positif dalam lima tahun terakhir, meskipun fluktuasi sempat terjadi di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.