Krisis Iklim Picu Ancaman Baru: Antibiotik Makin Kebal Lawan Bakteri
JAKARTA - Krisis iklim kini bukan cuma soal cuaca panas, banjir, atau gagal panen. Studi terbaru menunjukkan pemanasan bumi juga terkait dengan meningkatnya resistansi antibiotik di dunia.
Dikutip dari The Guardian, Kamis, 28 Mei, set yang terbit di jurnal Lancet Planetary Health menemukan perubahan iklim berkaitan dengan kenaikan 10 persen gen resistansi antibiotik pada salmonela secara global antara 1940 dan 2023.
Salmonela adalah bakteri yang dapat menyebabkan infeksi, terutama lewat makanan atau air yang terkontaminasi.
Resistansi antibiotik terjadi ketika bakteri menjadi kebal terhadap obat yang seharusnya membunuhnya. Akibatnya, infeksi lebih sulit diobati. Kondisi ini sudah membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahun, menurut perkiraan para ahli.
Studi tersebut dipimpin peneliti dari Inggris, Prancis, Australia, Swiss, dan China. Mereka menganalisis genom lebih dari 480.000 sampel salmonela dari 139 negara dalam rentang 1940 hingga 2023.
Baca juga:
Hasilnya mengkhawatirkan. Sebanyak 82 persen negara yang diteliti mengalami peningkatan gen resistansi antibiotik pada salmonela.
Kenaikan paling kuat yang terkait dengan iklim ditemukan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Setelah itu Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara.
Penyebab utama resistansi antibiotik tetap penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat. Misalnya, antibiotik diminum tanpa resep, tidak dihabiskan sesuai aturan, atau dipakai untuk penyakit yang sebenarnya tidak membutuhkan antibiotik.
Namun, para peneliti menyebut perubahan iklim ikut memperburuk keadaan. Suhu yang naik dan pola hujan yang berubah dapat memengaruhi cara bakteri bertahan hidup, bermutasi, dan menyebar.
Menurut The Guardian, para penulis studi menyatakan bukti yang terkumpul menunjukkan perubahan iklim menjadi kekuatan yang mempercepat penyebaran resistansi antimikroba secara global.
Istilah antimikroba mencakup obat untuk melawan mikroorganisme, termasuk bakteri. Antibiotik adalah salah satu jenis antimikroba.
Para peneliti juga menemukan hubungan antara suhu, curah hujan, dan perubahan jumlah gen resistansi. Polanya tidak sederhana. Resistansi tidak otomatis naik lurus setiap suhu meningkat. Ia berubah mengikuti kombinasi suhu dan hujan.
Artinya, lingkungan yang berubah bisa membantu bakteri beradaptasi lebih cepat terhadap antibiotik.
Meski begitu, studi ini tidak menyimpulkan bahwa perubahan iklim secara langsung menyebabkan kenaikan resistansi antibiotik. Yang ditemukan adalah hubungan kuat antara keduanya.
Para penulis studi menilai temuan ini penting karena selama ini penanganan resistansi antibiotik lebih banyak berfokus pada penggunaan obat. Padahal, iklim yang berubah juga perlu masuk hitungan.
Mereka menyerukan kebijakan iklim yang lebih serius, penggunaan antibiotik yang lebih bertanggung jawab, dan pengawasan penyakit yang lebih baik.
Jika suhu terus naik dan antibiotik tetap dipakai sembarangan, bakteri punya ruang lebih besar untuk menang. Akibatnya, obat yang dulu ampuh bisa pelan-pelan kehilangan kemampuannya.