Korsel Mulai Prosedur Formal Akuisisi Kapal Selam Bertenaga Nuklir

JAKARTA - Militer Korea Selatan memulai proses formal untuk mengakuisisi kapal selam bertenaga nuklir. Laporan ini berdasarkan dokumen Angkatan Laut yang dirilis di tengah minimnya kemajuan pembicaraan keamanan dengan Amerika Serikat (AS) terkait dorongan Seoul terhadap proyek tersebut.

Angkatan Laut Korea Selatan baru-baru ini menyerahkan dokumen kepada Kepala Staf Gabungan (Joint Chiefs of Staff/JCS) yang memuat kebutuhan program tersebut, termasuk spesifikasi kemampuan yang diinginkan, jumlah sistem yang dibutuhkan, serta proyeksi jadwal penempatan, menurut dokumen yang diberikan kepada anggota parlemen Kang Dae-sik dari oposisi utama People Power Party.

ASsebelumnya memberikan persetujuan bagi Korea Selatan untuk membangun kapal selam serang bertenaga nuklir dan berkomitmen bekerja sama dengan Seoul guna memenuhi kebutuhan proyek tersebut, termasuk jalur pengadaan bahan bakar, berdasarkan lembar fakta bersama yang dirilis setelah pertemuan puncak para pemimpin kedua negara.

Dilansir ANTARA dari Yonhap, Rabu, 20 Mei, JCS saat ini tengah meninjau usulan Angkatan Laut dan dijadwalkan menggelar pertemuan pada akhir bulan ini untuk memfinalisasi kebutuhan proyek tersebut.

Setelah kebutuhan proyek ditetapkan, program biasanya akan dilanjutkan dengan riset awal dan studi kelayakan, diikuti konsultasi dengan otoritas anggaran terkait total biaya proyek sebelum memasuki tahap pengembangan.

Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya Seoul mempercepat proyek kapal selam bertenaga nuklir setelah berbulan-bulan mengalami keterlambatan dalam negosiasi lanjutan dengan Washington terkait implementasi hasil pertemuan puncak kedua negara.

Dokumen hasil pertemuan puncak itu juga mencakup komitmen ASuntuk mendukung Seoul memperoleh hak pengayaan uranium dan pemrosesan ulang bahan bakar nuklir bekas.

Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk Urusan Politik Allison Hooker dijadwalkan mengunjungi Seoul dalam beberapa pekan mendatang untuk meluncurkan kelompok kerja bilateral guna mengimplementasikan kesepakatan hasil pertemuan puncak tersebut.

Kunjungan itu memunculkan harapan pembicaraan kedua negara terkait komitmen keamanan dapat mengalami kemajuan.

Militer Korea Selatan dilaporkan telah melakukan kajian awal untuk membangun sedikitnya empat kapal selam bertenaga nuklir kelas 5.000 ton setelah pertengahan dekade 2030-an.

Namun, masih belum jelas bagaimana militer Korea Selatan akan memenuhi kebutuhan pengadaan bahan bakar bagi kapal selam tersebut yang akan menggunakan reaktor nuklir kecil sebagai sumber tenaga.

Untuk memperoleh kemampuan propulsi nuklir bagi kapal selam tersebut, Korea Selatan perlu menandatangani perjanjian khusus dengan Amerika Serikat yang memungkinkan transfer material nuklir Washington untuk kepentingan militer.

Seoul diperkirakan segera mengumumkan peta jalan program kapal selam bertenaga nuklir yang akan menjelaskan sifat pertahanan program tersebut, perannya sesuai kewajiban nonproliferasi internasional, serta jadwal pelaksanaan proyek.