Rumah Peninggalan Prof Sardjito Dijual, Fadli Zon Soroti Status Cagar Budaya
JAKARTA - Bangunan bersejarah dan cagar budaya kerap menjadi saksi perjalanan penting sebuah bangsa. Namun, tidak sedikit rumah peninggalan tokoh nasional yang kini menghadapi tantangan pelestarian, mulai dari perubahan fungsi hingga berpindah kepemilikan. Kondisi ini memunculkan perhatian publik, terutama ketika bangunan tersebut menyimpan nilai sejarah dan jejak perjuangan tokoh penting Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan pihaknya akan memastikan status bangunan serta informasi lain terkait rumah peninggalan Pahlawan Nasional Prof. Dr. Sardjito di kawasan Terban, Yogyakarta, yang dikabarkan dijual oleh keluarga. "Karena itu milik pribadi tentu kita tidak mempunyai kewenangan kecuali itu cagar budaya, kita berharap mungkin ada yang tertarik untuk memilikinya terutama sehingga menjadikan itu misalnya ruang publik seperti museum dan semacam itu coba nanti akan kita lihat,” kata Fadli dalam wawancara cegat di Jakarta, Rabu, 20 Mei. Ia mengaku hingga kini Kementerian Kebudayaan belum menerima informasi lengkap mengenai kabar penjualan rumah tersebut. “Nanti akan kita cek dulu ya kita belum dapat informasi yang utuh,” katanya. Rumah peninggalan Prof. Dr. Sardjito itu berada di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Yogyakarta. Bangunan bergaya arsitektur jengki tersebut terletak tidak jauh dari kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan dikenal menyimpan sejumlah koleksi bersejarah milik sang tokoh nasional. Di dalam rumah tersebut tersimpan berbagai furnitur lama, koleksi buku, hingga keris yang masih tertata rapi. Bangunan itu berdiri di atas lahan seluas 1.206 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 800 meter persegi. Baca juga:
Pada bagian belakang rumah juga terdapat kantor Calcusol, obat tradisional yang dikembangkan oleh Sardjito.
Prof. Dr. Sardjito merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan dan kesehatan Indonesia. Pria kelahiran Desa Purwodadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada 13 Agustus 1891 itu dikenal sebagai salah satu pendiri sekaligus rektor pertama Universitas Gadjah Mada pada periode 1950–1961.
Namanya kemudian diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito di Yogyakarta.
Selain berkiprah di bidang pendidikan, Sardjito juga berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui layanan pengobatan darurat bagi para gerilyawan pada masa penjajahan.
Ia juga tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri Palang Merah Indonesia (PMI) serta memiliki kontribusi besar di bidang farmasi, termasuk dalam pengembangan obat tradisional dan modern di Indonesia.
Dalam perjalanan kariernya, Sardjito pernah mendapat amanat pemerintah Indonesia untuk mengambil alih Institut Pasteur peninggalan Belanda dan dipercaya menjadi Kepala PMI Bandung. PMI sendiri didirikan pada 9 September 1945 dan menjadi organisasi kemanusiaan pertama yang berdiri di Indonesia.