PBB Sorot Pembangunan Hijau China di Tengah Krisis Hunian Kota
JAKARTA — Negara berkembang menghadapi tekanan besar: kebutuhan rumah dan infrastruktur terus naik, tetapi emisi juga harus ditekan. Mengutip laporan China Daily, Jumat, 15 Mei, pejabat Program Lingkungan PBB atau UNEP menilai pengalaman China dalam konstruksi hijau dan pembangunan rendah karbon layak dipelajari.
Pernyataan itu disampaikan menjelang World Urban Forum ke-13 yang akan digelar di Baku, Azerbaijan, pada 17–22 Mei. Forum ini membahas masa depan kota di tengah pertumbuhan penduduk, kebutuhan hunian, dan risiko iklim.
Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP, Martin Krause, mengatakan banyak negara berkembang menghadapi “tantangan ganda”. Mereka harus memperluas infrastruktur, tetapi juga mengurangi emisi.
Tekanan itu terutama terasa di wilayah yang masih kekurangan rumah dan memiliki banyak hunian tidak layak.
“Pekerjaan yang dilakukan China di sektor khusus ini tentu mengesankan,” kata Krause.
Baca juga:
Menurut Krause, negara-negara Afrika yang sedang menghadapi lonjakan kebutuhan rumah dan infrastruktur dapat belajar dari pengalaman China melalui forum internasional tentang konstruksi berkelanjutan dan aksi iklim.
Ia mengatakan bangunan kini menjadi bagian penting dalam krisis iklim. Sebab, bangunan berkaitan langsung dengan emisi, biaya hidup, dan ketahanan warga menghadapi cuaca ekstrem.
Bangunan yang boros energi membuat kebutuhan listrik tinggi dan biaya rumah tangga naik. Sebaliknya, bangunan hemat energi bisa menekan tagihan, memperkuat ketahanan energi, dan membantu warga menghadapi suhu panas serta cuaca ekstrem.
UNEP menilai perluasan kota di China menunjukkan bagaimana pembangunan infrastruktur skala besar bisa berjalan bersama perbaikan praktik bangunan dan efisiensi energi.
Dalam beberapa dekade terakhir, China menanamkan sumber daya besar untuk transisi menuju ekonomi hijau. Laporan UNEP sebelumnya menyebut peralihan itu dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, pengurangan dampak perubahan iklim, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan standar hidup.
China juga menjadi produsen besar energi terbarukan. Negara itu memproduksi panel surya dan turbin angin dalam jumlah terbesar di dunia, yang banyak digunakan dalam pembangunan kota.
Pejabat UNEP juga memaparkan temuan Global Status Report for Buildings and Construction 2025/2026, yang akan dirilis pekan depan. Menurut laporan itu, sektor bangunan perlu mengurangi emisi, mengelola risiko iklim, dan tetap menjaga harga hunian terjangkau.
Oliver Rapf, Direktur Eksekutif Buildings Performance Institute Europe, mengatakan luas lantai bangunan global terus bertambah cepat. Namun upaya memangkas emisi di sektor itu masih tertinggal dari target iklim internasional.
Menurut laporan yang dikutip China Daily, emisi operasional bangunan naik 6,5 persen sejak 2015. Padahal, emisi perlu turun lebih dari 30 persen agar sejalan dengan Perjanjian Paris.
“Dunia membangun dengan cepat, tetapi masih tertinggal ketika risiko iklim meningkat dan kota-kota tumbuh,” kata Rapf.
Hanane Hafraoui dari Global Alliance for Buildings and Construction mengatakan pemerintah harus menjadikan bangunan rendah karbon dan tahan iklim sebagai bagian utama rencana iklim nasional.
“Tugas sekarang adalah bergerak dari proyek percontohan ke skala besar, dari komitmen ke pelaksanaan,” katanya.
Ia menegaskan krisis iklim tidak bisa diselesaikan tanpa rumah yang lebih terjangkau, tahan iklim, dan hemat energi.