Dinkes DKI Bongkar Penyebab Keracunan MBG di Jaktim: Makanan Dimasak Terlalu Dini hingga Diduga Pakai Tahu Asam

JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengungkap sejumlah temuan dalam kasus keracunan makan bergizi gratis pada ratusan siswa dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulogebang, Jakarta Timur.

Hasil investigasi menunjukkan makanan diduga mengalami kontaminasi akibat buruknya penerapan higiene sanitasi hingga proses pengolahan yang tidak sesuai standar keamanan pangan.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan investigasi menemukan adanya ketidaksesuaian pada aspek tempat pengolahan, penjamah makanan, hingga penanganan bahan pangan dan peralatan.

"Terdapat ketidaksesuaian pada penerapan higiene dan sanitasi pada aspek tempat, penjamah pangan, serta handling bahan dan peralatan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya cemaran terhadap pangan," kata Ani kepada wartawan, Jumat, 15 Mei.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium, ditemukan adanya cemaran mikrobiologi pada makanan siap saji yang dikonsumsi korban. Temuan itu diperkuat dengan hasil investigasi lapangan terkait proses pengolahan makanan.

Dinkes menduga salah satu penyebab utama keracunan berasal dari proses pengolahan makanan yang terlalu dini sehingga makanan berada terlalu lama dalam suhu ruang sebelum dikonsumsi.

"Terjadinya time-temperature abuse, yaitu jarak waktu antara makanan matang hingga dikonsumsi melebihi batas aman melebihi empat jam akibat proses pengolahan dimulai terlalu dini," ucap Ani.

Menu yang disajikan dalam peristiwa itu juga termasuk kategori pangan berisiko tinggi dan mudah rusak, yakni bakmi jawa dan pangsit tahu berkuah. Selain itu, ditemukan dugaan penggunaan bahan pangan yang kualitasnya sudah menurun.

"Adanya dugaan penggunaan bahan pangan yang telah mengalami penurunan mutu, khususnya tahu yang diterima dalam kondisi asam," tutur Ani.

Investigasi juga menemukan proses pengolahan mie basah tidak melalui tahapan perebusan. Hal itu diduga membuat jumlah mikroorganisme pada bahan pangan tidak berkurang secara optimal.

"Proses pengolahan mie basah tidak melalui tahapan perebusan (boiling), sehingga diduga tidak mencapai suhu optimal untuk menurunkan jumlah mikroorganisme," jelas Ani.

Tak hanya itu, Dinkes turut mencatat adanya dugaan rekontaminasi pada makanan matang serta kondisi sanitasi yang dinilai belum optimal selama proses pengolahan makanan berlangsung.

Pada Senin, 11 Mei lalu, puluhan siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit usai diduga mengalami keracunan setelah menyantap MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulogebang, Jakarta Timur yang didistribusikan pada Jumat, 8 Mei.

Di sisi lain, Ani mengungkapkan SPPG Pulogebang ternyata masih dalam proses pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) saat kasus dugaan keracunan terjadi. Menurut dia, dapur MBG tersebut baru mulai beroperasi sejak akhir Maret lalu dan belum mengantongi sertifikat karena masih menjalani tahapan pembinaan dan inspeksi.

"SPPG Pulogebang ini kalau enggak salah 30 Maret mulai operasional, gitu. Jadi dia dalam proses mengurus (SLHS)," ucap Ani.

"Kami sudah melakukan visitasi, sudah dilakukan penjadwalan untuk melakukan pelatihan terhadap penjamah makanannya di 13 Mei ini. Jadi masih berproses dan SLHS-nya memang saat ini belum keluar," tambahnya.