Inggris Kerahkan Kapal Tempur ke Timteng, Siap Amankan Selat Hormuz
JAKARTA - Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan telah mengerahkan sebuah kapal tempur ke Timur Tengah sebagai persiapan akan kemungkinan digelarnya misi internasional untuk melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz.
HMS Dragon, kapal penghancur Tipe 45 yang sebelumnya ditempatkan di Laut Mediterania timur dekat Siprus, akan bersiaga di kawasan tersebut untuk ikut serta dalam inisiatif maritim Inggris-Prancis jika kondisi memungkinkan, ungkap laporan berbagai media Inggris.
Rencana misi yang didukung Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron tersebut bertujuan menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
"Kami dapat memastikan HMS Dragon akan dikerahkan ke Timur Tengah untuk bersiaga menjelang kemungkinan pelaksanaan misi multinasional dalam rangka melindungi pelayaran internasional, saat kondisi memungkinkan untuk melintas di Selat Hormuz," kata juru bicara Kemhan Inggris dilansir ANTARA dari Anadolu, Sabtu, 9 Mei.
"Pra-penempatan HMS Dragon adalah bagian dari perencanaan bijak yang akan memastikan kesiapan Inggris, sebagai bagian dari koalisi multinasional yang dipimpin bersama oleh Inggris dan Prancis, untuk mengamankan selat tersebut," ucap dia, menambahkan
Ketegangan meningkat di kawasan itu setelah Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Israel serta sekutu AS di Teluk Persia.
Perang tersebut mengakibatkan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Baca juga:
Pada 8 April, gencatan senjata disepakati dengan mediasi Pakistan, tetapi tahap pertama perundingan damai di Islamabad pada 11 April gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu yang ditentukan, sehingga memberi waktu bagi semua pihak agar mengupayakan solusi konflik secara permanen melalui diplomasi.
Namun, sejak 13 April, AS telah memblokade lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis itu.
Adapun pada Selasa (5/5), PresidenDonald Trump mengumumkan militer AS akan menunda untuk sementara pelaksanaan "Project Freedom" untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Dengan demikian, blokade AS terhadap Iran akan tetap dilanjutkan, kata Trump.