Studi Ungkap Konsumsi Buah dan Sayur Kurangi Risiko Tantrum pada Anak

JAKARTA - Sebuah studi terbaru mengungkapkan pola makan anak memiliki kaitan erat dengan kesehatan mental dan perilaku mereka sehari-hari.

Penelitian tersebut menemukan konsumsi buah dan sayuran secara rutin dapat membantu mengurangi risiko anak mengalami tantrum, kecemasan, hingga perilaku agresif.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Agder, Norwegia, dan dipublikasikan dalam jurnalNutrientsmenunjukkan anak-anak yang lebih banyak mengonsumsi buah dan sayuran cenderung memiliki kondisi emosionallebih stabil dibandingkan anak yang sering mengonsumsi camilan manis dan asin.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis data dari 363 anak berusia empat tahun beserta ibu mereka melalui program penelitianEarly Food for Future Healthdi Norwegia. Penelitian ini sebelumnya dirancang untuk memperbaiki pola makan anak sejak usia enam hingga 12 bulan.

Hasilnya menunjukkan anak yang rutin makan buah dan sayuran memiliki tingkat masalah perilaku internal yang lebih rendah, seperti kecemasan, depresi, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.

Sebaliknya, anak yang lebih sering mengonsumsi makanan ringan manis dan asin lebih rentan menunjukkan perilaku agresif, sulit fokus, dan mudah meluapkan emosi.

"Tantangan kesehatan mental meningkat di seluruh dunia. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dicegah yang berkontribusi terhadap tantangan tersebut sangat penting dan akan memberikan dampak terbesar jika dikenali sejak anak masih kecil," tulis para peneliti, dikutip dari laman Euro News.

Para peneliti menekankan kesehatan mental anak pada usia dini sangat penting karena berpengaruh terhadap kemampuan sosial, prestasi akademik, hingga kualitas hidup mereka di masa depan.

Studi tersebut juga menyoroti masalah perilaku eksternal seperti agresivitas dan sikap menentang merupakan salah satu alasan utama anak dirujuk ke layanan kesehatan mental anak dan remaja.

“Ini mencakup perilaku agresif dan menentang, serta dapat menjadi prediksi munculnya masalah sosial dan rendahnya prestasi akademik sepanjang masa kanak-kanak hingga remaja,” kata peneliti dalam laporannya.

Perilaku semacam ini bahkan dapat muncul sejak anak berusia di bawah lima tahun. Menurut penelitian, sekitar dua pertiga anak yang menunjukkan masalah perilaku pada usia dua hingga tiga tahun akan terus mengalami tantangan serupa hingga memasuki usia sekolah.

“Kondisi ini menunjukkan pentingnya mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan kesehatan mental sejak awal kehidupan." demikian kesimpulan penelitian tersebut.

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pola makan sehat bukan hanya penting bagi pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berperan besar dalam menjaga kesehatan mental dan kestabilan emosinya sejak dini.