Kebiasaan Minum Kopi Manis Bisa Sebabkan Diabetes pada Anak Muda

JAKARTA - Kebiasaan minum kopi, terutama kopi kekinian dengan tambahan gula atau topping, kini semakin populer di kalangan anak muda. Tren yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari membuat konsumsi minuman manis semakin meningkat.

Kondisi ini tentu dapat berpotensi memicu gangguan metabolisme, termasuk diabetes yang kini juga mulai banyak ditemukan pada usia muda. Pasalnya, satu gelas kopi kekinian itu sudah mencukupi 50 persen kebutuhan gula harian.

Di saat minuman itu dikonsumsi lebih dari satu gelas per hari, apalagi ditambah dengan kudapan atau makanan manis lainnya, maka kebutuhan gula dalam tubuh bisa berlebihan. Ketika asupan gula terus berlebih, tubuh akan mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons hormon insulin secara optimal.

Akibatnya, kadar gula dalam darah meningkat dan dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Setidaknya fakta ini disampaikanKetua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM.

Prof Yunir, sapaan akrabnya mengungkapkan kasus diabetes tipe 2 bahkan sudah ditemukan pada usia sangat muda.

"Sudah ada pasien diabetes tipe 2 usianya 18 tahun. Salah satu pemicu kondisi ini adalah kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan, termasuk kopi kekinian yang tinggi gula," ucap Prof Yunir dalam diskusi media "Kalbe Dukung Kolaborasi Strategis Penanganan Diabetes di Indonesia" di Jakarta, Jumat, 17 April.

Fenomena ini menunjukkan diabetes tidak lagi identik dengan usia lanjut. Pada kelompok usia muda, pola hidup modern seperti konsumsi gula berlebih, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan duduk dalam waktu lama berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko penyakit ini.

Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi. Ia menekankan jenis kopi yang dikonsumsi sangat berpengaruh terhadap asupan gula harian.

"Kopi yang tidak ada gulanya seperti kopi hitam, itu lebih sehat untuk jantung. Tapi, kopi kekinian yang sudah banyak tambahannya, itu banyak gulanya," jelasnya.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengonsumsi makanan dan minuman manis, termasuk kopi. Mengontrol asupan gula menjadi langkah penting untuk mencegah risiko penyakit kronis di masa depan.

Seiring meningkatnya kasus diabetes di Indonesia, berbagai pihak juga mendorong upaya penanganan yang lebih terintegrasi. Salah satunya melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri, hingga masyarakat untuk memperkuat edukasi dan pencegahan.

PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) turut mendukung kolaborasi strategis tersebut dalam penanganan diabetes di Indonesia, sejalan dengan meningkatnya prevalensi diabetes yang mencapai 10,9 persen berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga edukasi serta pencegahan secara berkelanjutan.

Upaya ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam pengendalian penyakit tidak menular.

"Kami secara konsisten mendukung perluasan akses kesehatan, peningkatan kemandirian dan ketahanan kesehatan di Indonesia. Penanganan diabetes tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri, dan masyarakat. Untuk itu, Kami terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulialie.

Melalui peningkatan kesadaran serta kerja sama berbagai pihak, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya menjaga pola konsumsi, termasuk dalam menikmati kopi, agar tetap sehat tanpa harus meninggalkan gaya hidup yang dijalani.