TikTok Bangun Data Center Kedua di Finlandia Senilai Rp19 Triliun, Fokus Lindungi Data 200 Juta Pengguna Eropa
JAKARTA — TikTok mempercepat ekspansi infrastrukturnya di Eropa dengan rencana investasi baru senilai 1 miliar euro atau sekitar Rp19,8 triliun untuk membangun pusat data kedua di Finlandia. Langkah ini menegaskan strategi perusahaan dalam memindahkan penyimpanan data pengguna Eropa ke dalam kawasan Uni Eropa di tengah tekanan regulasi yang semakin ketat.
Perusahaan milik ByteDance tersebut mengonfirmasi bahwa fasilitas baru akan dibangun di Lahti, Finlandia selatan, dengan kapasitas awal 50 megawatt (MW) dan potensi ekspansi hingga 128 MW. Proyek ini ditargetkan menjadi bagian penting dari inisiatif besar TikTok senilai 12 miliar euro untuk memperkuat kedaulatan data di Eropa.
Baca juga:
- Grab Luncurkan Asisten AI untuk Permudah Aktivitas Pemesanan dalam Satu Percakapan
- Indodana Fintech Sabet Predikat Platform Digital Lending Terpercaya 2026
- Integrasi Gemini di Google Maps Bantu Kontributor Tulis Review Secara Otomatis
- Redmi K90 Max Rilis Bulan Ini, HP Gaming dengan Kipas Pendingin dan Dimensity 9500
“Investasi ini merupakan bagian dari ‘European data sovereignty initiative’ senilai 12 miliar euro yang menghadirkan perlindungan tingkat industri bagi lebih dari 200 juta pengguna Eropa,” kata TikTok dalam pernyataan resminya.
Langkah agresif ini datang hanya beberapa bulan setelah ByteDance berhasil menghindari ancaman pelarangan di Amerika Serikat pada Januari 2026, yang sebelumnya dipicu kekhawatiran terkait perlindungan data pengguna. Pada saat yang sama, negara-negara Eropa juga meningkatkan tekanan terhadap platform media sosial untuk mengendalikan algoritma yang dinilai adiktif, khususnya bagi anak-anak.
Finlandia sendiri kini menjelma menjadi “surga” baru bagi pusat data global. Kombinasi iklim dingin, biaya listrik rendah dan ramah lingkungan, serta regulasi Uni Eropa yang stabil membuat negara Nordik ini menarik bagi raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google.
Namun, ekspansi TikTok tidak sepenuhnya mulus. Rencana pembangunan pusat data pertama di Finlandia sebelumnya memicu kekhawatiran politik. Sejumlah pejabat menilai proyek tersebut kurang transparan dan berpotensi menimbulkan risiko keamanan.
Mantan Menteri Urusan Ekonomi Finlandia, Wille Rydman, bahkan sempat meminta proyek itu ditinjau ulang. “Setidaknya saya berharap perusahaan pengembang properti mempertimbangkan kembali apakah benar ingin menjadikan TikTok sebagai penyewa,” ujarnya kepada media publik Yle.
Saat ini, TikTok menyebut data pengguna Eropa disimpan dengan perlindungan tambahan di pusat data yang tersebar di Norwegia, Irlandia, dan Amerika Serikat. Sementara itu, fasilitas pertama di Kouvola dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir 2026, dengan pusat data kedua di Lahti ditargetkan rampung pada 2027.
Di sisi lain, pemerintah daerah menyambut investasi ini dengan optimisme. Wali Kota Lahti, Niko Kyynarainen, menyebut proyek tersebut sebagai langkah besar bagi ekonomi lokal.
“Dalam konteks Lahti, investasi ini sangat signifikan. Kami senang bahwa perjanjian dengan penyewa utama telah ditandatangani dan proyek berjalan sesuai rencana,” katanya.