Dinkes DKI Duga Keracunan MBG di Duren Sawit Dipicu Jeda Distribusi Makanan Terlalu Lama 

JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengungkap dugaan awal penyebab kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di sejumlah sekolah di kawasan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati menjelaskan, dari hasil analisis sementara, faktor waktu antara makanan selesai dimasak hingga didistribusikan ke penerima disebut menjadi salah satu penyebab utama.

"Dari sementara yang kita lihat, kemungkinan mungkin ada waktu yang cukup lama jaraknya antara makanan matang disiapkan sampai kemudian didistribusikan," ungkap Ani di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 8 April.

Menu spageti yang disajikan dalam program tersebut diduga mengalami penurunan kualitas karena jeda distribusi yang terlalu panjang. Hal ini kemudian dikaitkan dengan munculnya gejala keracunan pada para penerima makanan.

Ani menjelaskan, dugaan itu juga diperkuat dari pola waktu munculnya gejala pada korban yang sebagian besar terjadi setelah jam makan siang.

"Karena itu kan kalau dilihat dari persentase korban, sebagian besar adalah yang masuk siang gitu. Itu apa namanya, analisa sementara," ungkap dia.

Sejak kasus ini mencuat, Dinkes DKI Jakarta telah menurunkan tim untuk melakukan penelusuran lebih lanjut. Pemeriksaan dilakukan mulai dari lokasi pengolahan, alur distribusi, hingga koordinasi dengan pihak terkait.

“Tapi semua tim dari sejak awal sudah turun, sudah mengecek kembali untuk memastikan masalahnya di mana, supaya SPPG-nya juga bisa evaluasi dan memperbaiki,” jelasnya.

Meski demikian, Dinkes menegaskan kewenangan terkait operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak berada di bawah pemerintah daerah, melainkan pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN).

Berdasarkan data hingga Rabu, 8 April sebanyak 37 orang masih dirawat dari total 104 korban yang sempat mengakses layanan kesehatan.

Sebaran pasien yang masih dirawat tersebar di sejumlah rumah sakit. Tujuh orang dirawat di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, enam orang di RS Islam Pondok Kopi, dan 19 orang di RS Harum. Sementara sisanya berada di beberapa rumah sakit lainnya.

Dinkes memastikan seluruh pasien masih dalam pengawasan tenaga medis untuk memastikan kondisi mereka benar-benar pulih sebelum diperbolehkan pulang.

"Jadi kita tunggu sampai stabil, betul-betul dia sehat, sudah enggak panas, sudah enggak ada muntah lagi, sudah enggak ada diare, semua keluhannya sudah hilang, baru pulang," ujar Ani.