Dampak Perang Iran pada Ekonomi Indonesia
JAKARTA – Perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, namun dampaknya bisa terasa hingga dapur rumah tangga.
Serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran sejak Sabtu (28/2/2026) diyakini berdampak luas ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Pasalnya, operasi yang dinamai Operation Epic Fury ini tidak hanya memicu serangan balasan Iran, tapi juga pengumuman penutupan Selat Hormuz.
Brigadir Jenderal Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Ibrahim Jabari mengerahkan pasukannya untuk menutup Selat Hormuz di tengah memanasnya situasi kawasan Timur Tengah. Jabari menegaskan tidak ada kapal yang boleh melintas selama penutupan.
"Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul serangan terhadap Iran," kata Jabari kepada media Lebanon Al-Mayadeen, Sabtu (28/2) waktu setempat.
Penutupan Selat Hormuz diyakini bakal berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Pasalnya, Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan minyak dunia di selatan Iran, dilewati 20 persen pasokan minyak dunia.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari 2026 impor minyak dan gas Indonesia dari Timur Tengah masih berjalan normal. Arab Saudi tercatat sebagai pemasok terbesar dengan nilai 267,4 juta dolar AS, disusul Uni Emirat Arab sebesar 200,6 juta dolar AS. Artinya, ketergantungan Indonesia pada Iran kecil. Tapi yang menjadi masalah bukan negara pengekspor, melainkan pada jalur distribusi.
Cobaan WNI
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, jutaan warga Indonesia dapat merasakan dampak ekonomi dari perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. Dampak paling utama akan terasa dari kenaikan harga minyak dunia serta potensi semakin dalamnya depresiasi rupiah.
Bhima memproyeksikan, penutupan Selat Hormuz dapat mengerek harga minyak ke rentang 100 dolar AS hingga 120 dolar AS per barel. Kondisi ini diperburuk oleh adanya penolakan pengajuan asuransi oleh berbagai kapal logistik yang melewati wilayah konflik.
“Situasi ini menyebabkan kesulitan importasi minyak bagi banyak negara,” kata Bhima.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak, kenaikan tersebut akan sangat terasa imbasnya. Pada simulasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026 mencatat, kenaikan setiap 1 dolar AS per barel minyak di atas asumsi APBN, 70 dolar AS per barel, akan menambah belanja negara Rp10,3 triliun.
Menurut perhitungannya, kenaikan harga minyak hingga 100 dolar AS atau bahkan 120 dolar AS per barel dapat menaikkan belanja negara hingga Rp515 triliun.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga memicu kekhawatiran munculnya fenomenaflight to qualityatau aksi investor bergeser dari aset berisiko ke aset ke yang lebih aman, seperti emas. Hal ini, kata Bhima, dapat menyebabkan pelemahan rupiah yang semakin dalam.
Celios juga menyoroti fenomenagold rushyang masih terjadi. Harga emas global naik 48,4 persen dalam enam bulan terakhir, salah satunya dipicu oleh memanasnya tensi konflik di Timur Tengah.
Dan, akibat terganggunya rantai pasok global karena konflik Timur Tengah, Celios menilai adanya potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pokok seperti ayam, telur, beras, dan sayuran. Apalagi, dengan adanya program Makan Bergizi Gratis
Kondisi ini dinilai berisiko menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah. Dengan demikian, pendapatan yang dapat dibelanjakan ataudisposable incomeberpotensi kian menyusut.
“Pangan rentan terdampak, terutama yang sensitif terhadap fluktuasi kurs dan gangguan rantai impor, seperti kedelai, gandum, daging,” ucap Bhima.
“Buat WNI (Warga Negara Indonesia) yang pegang rupiah, inisihcobaan,” lanjutnya.
Bergantung Durasi Konflik
Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Syiah, Apridar, menuturkan, serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran telah mengubah peta geopolitik global dalam sekejap. Namum besar kecilnya dampak akan sangat bergantung pada durasi konflik.
Jika perang hanya berlangsung singkat, semisal hitungan hari, maka dampaknya akan terbatas pada gejolak sementara. IHSG mungkin terkoreksi 2-4 persen, dan rupiah akan merangkak naik, namun tidak akan mengganggu target pertumbuhan.
Ketika investor global melakukan aksiflight to quality,yieldobligasi AS turun, dan hal ini justru bisa memicu arus modal masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia yang menawarkan imbas hasil tinggi.
Tapi jika konflik berkepanjangan bisa berdampak lebih buruk. Senada dengan Bhima, Apridar menyebut adanya ancaman beban subsidi membengkak hingga Rp50 triliun sampai Rp80 triliun jika hanya minyak bertahan di atas 200 dolar AS lebih dari sebulan.
Baca juga:
“Defisit APBN akan melebar, inflasi bisa terdorong kembali ke atas empat persen, daya beli kelas menengah akan tergerus. Dalam skenario sangat ekstrem, pertumbuhan ekonomi bisa terancam,” ucapnya.
“Perang di Timur Tengah memang terjadi ribuan kilometer dari Jakarta, tapi dampaknya terasa di SPBU, di pasar modal, dan di kalkulasi anggaran negara. Krisis ini menjadi ujian nyata bagi ketahanan ekonomi Indonesia,” kata Apridar menyudahi.