AS Mau Blokir RAM China? Industri PC dan HP Bisa Ikut Goyang

JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan pelarangan penggunaan memori buatan China pada perangkat milik pemerintah. Rancangan aturan baru yang diperkenalkan pemerintahan saat ini berpotensi melarang RAM dari perusahaan China dipasang di komputer, ponsel, dan perangkat keras lain yang digunakan instansi federal.

Langkah ini muncul di tengah kekurangan pasokan RAM global yang dipicu lonjakan permintaan pusat data AI. Data center raksasa memborong stok, sementara tiga produsen memori terbesar dunia memprioritaskan pelanggan enterprise. Di celah itulah produsen China sempat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk pasar konsumen, bahkan perangkat pemerintah. Logikanya sederhana: ketika stok menipis, suplai tetaplah suplai.

Namun wacana terbaru menunjukkan arah berbeda. Jika aturan tersebut disahkan, perangkat pemerintah tidak boleh lagi menggunakan memori dari perusahaan China. Nama-nama seperti SMIC, CXMT, dan YMTC disebut dalam rancangan larangan itu.

Usulan ini diajukan oleh FAR Council dan saat ini masih dalam tahap pembahasan. Aturan tersebut dibuka untuk komentar publik hingga 20 April 2026, sehingga keputusan final belum diambil. Meski begitu, pengamat menilai pelarangan semacam ini bukan hal mengejutkan, mengingat pembatasan sebelumnya terhadap berbagai teknologi asal China.

Dampaknya bisa meluas. Pemerintah AS merupakan pembeli besar perangkat keras dari merek global seperti HP dan Dell. Jika kontrak pemerintah melarang penggunaan memori China, produsen perangkat mungkin harus memisahkan lini produksi atau bahkan menghindari pembelian memori tersebut sama sekali. Dalam skala industri, keputusan pembelian tidak hanya soal harga, tetapi juga volume dan efisiensi rantai pasok.

Di sisi lain, jika produsen tidak bisa menggunakan memori China untuk kontrak pemerintah, mereka mungkin enggan membelinya dalam jumlah besar hanya untuk segmen konsumen. Itu bisa memengaruhi harga dan ketersediaan produk di pasar umum. Dengan kata lain, kebijakan yang tampaknya spesifik untuk perangkat pemerintah bisa berdampak tidak langsung pada laptop dan ponsel yang dijual ke publik.

Secara geopolitik, isu ini menambah daftar panjang ketegangan teknologi antara Washington dan Beijing. Memori bukan sekadar komponen pasif; ia adalah bagian vital dari infrastruktur digital modern, dari AI hingga komputasi awan. Ketika chip menjadi alat diplomasi, setiap modul RAM berubah menjadi pion dalam permainan catur teknologi global.

Keputusan akhir masih menunggu proses regulasi dan masukan publik. Namun satu hal jelas: di era di mana data adalah minyak baru, bahkan kepingan memori pun bisa menjadi isu keamanan nasional.