Kaspersky Catat 14,9 Juta Serangan Web di Indonesia Sepanjang 2025
JAKARTA - Indonesia menjadi pasar terbesar penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Data Oxford Insight mengungkapkan, tingkat kesiapan Indonesia untuk penggunaan AI mencapai 65,85 persen, terutama di bidang pemerintahan dan data.
Namun, di balik pertumbuhan ekosistem digital dan implementasi AI yang semakin masif, ini juga diikuti dengan ancaman kejahatan siber yang meningkat signifikan.
Kaspersky dalam laporan keamanan tahunannya (KSN) mengungkapkan bahwa sebanyak 14.909.665 serangan berbasis web terdeteksi dan berhasil diblokir di Indonesia tahun lalu, setara dengan sebanyak 40.848 upaya serangan siber online per hari.
Secara umum, lebih dari 1 dari setiap 4 (22,4 persen) pengguna menghadapi ancaman online selama periode Januari hingga Desember 2025. Hal ini juga menempatkan Indonesia di peringkat ke-84 di dunia dalam hal bahaya terkait dengan berselancar di web.
Serangan melalui browser adalah metode utama penyebaran program berbahaya. Pemanfaatan kerentanan pada peramban dan pluginnya (drive-by download) serta metode rekayasa sosial paling sering digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk menembus sistem.
Adapun lima negara dengan persentase pengguna paling banyak terdampak ancaman berbasis web adalah Belarus (37,6 persen), Andorra (37,6 persen), Tajikistan (34,5 persen), Ukraina (34,5 persen), dan Yunani (33,9 persen).
General Manager untuk ASEAN dan AEC di Kaspersky, Simon Tung mengatakan bahwa tim TI harus memiliki tim operasi keamanan yang mampu memantau dan mengatasi ancaman siber.
Selain itu, kebijakan dan peraturan yang jelas tentang perlindungan data juga perlu diimplementasikan untuk melindungi hak pengguna. Faktor-faktor ini menurutnya, bisa menciptakan pertahanan keamanan yang solid.
Baca juga:
Sementara itu, Tung juga menyebutkan bahwa pada 2026 tren serangan diperkirakan akan semakin canggih dengan AI sebagai benang merah berbagai risiko yang muncul.
Menurutnya, AI tidak hanya membantu pihak defender dalam mendeteksi anomali lebih cepat, tetapi juga dimanfaatkan penyerang untuk memetakan pasar, menyelidiki infrastruktur, hingga menghasilkan konten berbahaya yang lebih meyakinkan.
“Oleh karena itu, kami selalu menekankan untuk meningkatkan kewaspadaan tinggi dan juga membangun pertahanan terbaik dengan menggunakan solusi keamanan yang andal,” tambah Tung.