Kepulauan Romang-Damer di Maluku Simpan Keanekaragaman Hayati tapi Kurang Dapat Perhatian

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengapresiasi Yayasan WWF Indonesia yang melakukan ekspedisi kawasan konservasi Kepulauan Romang dan Damer di Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku, pada 2025.

Para peneliti yang terlibat dalam kegiatan itu mampu membuktikan perairan Maluku Barat Daya menjadi pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut dunia di tengah ancaman perubahan iklim global.

Pasalnya, ekspedisi ilmiah yang digelar pada 3 Oktober-3 November 2025 itu berhasil menyingkap habitat dugong terbesar di Indonesia.

Dalam satu area, patra peneliti menjumpai dugong sebanyak 32 ekor.

Berdasarkan catatan peneliti, populasi dugong dalam jumlah besar menjadi temuan langka, bahkan untuk ukuran dunia.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara mengakui, dua pulau di Maluku itu kurang mendapat perhatian, padahal menyimpan kekayaan biodiversitas tinggi.

"Kepulauan Romang dan Damer kerap disebut sebagai 'The Forgotten Island' wilayah dengan kekayaan biodiversitas tinggi dan fungsi ekologis sangat penting, namun selama ini kurang mendapatkan perhatian," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara dalam konferensi pers di kantornya, Kamis, 5 Februari.

Padahal, kata Koswara, di kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan ekosistem laut sekaligus juga menopang kehidupan masyarakat pesisir.

"Sebagai bentuk komitmen pemerintah, kawasan di perairan Romang & Damer ini sudah ditetapkan menjadi kawasan konservasi berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 dan 6 Tahun 2022, ada dua Keputusan Menterinya," katanya.

Adapun ekspedisi Romang-Damer 2025 berhasil mendokumentasikan lebih dari 30 individu dugong dan mencatat kemunculan paus orca serta mengidentifikasi adanya struktur terumbu karang yang diperkirakan telah berumur ratusan tahun.

Menurut Koswara, temuan itu tentunya memiliki nilai ilmiah sangat tinggi dan menegaskan pentingnya Romang & Damer sebagai kawasan dengan fungsi ekologis sangat strategis.

"Dalam konteks tersebut, ekspedisi Romang & Damer 2025 menjadi kontribusi penting dalam mendukung pengambilan keputusan baik di pusat dan daerah. Ke depan, sinergi antara pusat dan daerah, mitra pembangunan, akademisi dan masyarakat lokal menjadi kunci untuk memastikan kawasan konservasi benar-benar memberikan manfaat ekologis dan sosial ekonomi," terangnya.

Sementara itu, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia Candhika Yusuf menuturkan, hasil ekspedisi mampu menunjukkan Maluku Barat Daya memiliki pulau-pulau kecil yang dikelilingi perairan masih terjaga sejak zaman leluhur.

Pihaknya mengaku takjub dengan kehadiran terumbu karang di sana yang tetap sehat dan tangguh di saat banyak wilayah mengalami pemutihan.

"Kami menemukan habitat terbesar dugong. Namun, keajaiban ini sedang dipertaruhkan oleh ancaman nyata praktik penangkapan ikan yang merusak oleh pihak luar serta tidak lepas dari isu sampah plastik dan ghost net," tuturnya.

Dia menilai, keberlangsungan kekayaan alam di Maluku Barat Daya kini menghadapi tantangan besar yang memerlukan tindakan kolektif segera.

Ancaman nyata dari praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan racun, perburuan penyu hingga polusi sampah plastik mulai merambah pesisir terpencil.

Hal itu diyakini dapat merusak resiliensi ekosistem yang telah terjaga selama berabad-abad.

"Kami harus berkolaborasi memperkuat pengawasan berbasis masyarakat melalui Pokmaswas agar kekayaan ini tidak hilang," jelasnya.

Adapun dalam ekspedisi Romang & Damer 2025, para peneliti telah mencatat ekosistem lamun yang menjadi rumah dugong berada dalam kondisi sangat baik dengan tutupan di atas 50 persen.

Tim ekspedisi berhasil menemukan dua pertiga jenis lamun yang tercatat ada di Indonesia (9 jenis dari total 14 jenis lamun).

Data ekspedisi lainnya menunjukkan, ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Romang dan Damer dalam kondisi sedang hingga baik.

Hal itu tercermin dari angka rata-rata tutupan terumbu karang tertinggi mencapai 51,4 persen, lebih tinggi dari rata-rata regional yang sebesar 34 persen.

Dalam analisis tingkat lanjut, peneliti juga menemukan sebagian koloni karang di perairan itu berusia sekitar 100-200 tahun.

Fakta tersebut menunjukkan ekosistem perairan dangkal di kawasan Romang & Damer telah bertahan sejak lama.

Ekosistem tua itu diyakini mampu memberikan manfaat ekologis tinggi, seperti penjaga kawasan pantai, daerah pemijahan hewan-hewan laut penting dan bernilai ekonomis.