Mode Lockdown iPhone Bikin FBI Gigit Jari, Data Tetap Aman Meski Disita

Jakarta – Fitur Lockdown Mode milik Apple kembali membuktikan ketangguhannya. Mode keamanan ekstrem di iPhone itu disebut mampu melindungi data pengguna bahkan dari upaya pembobolan aparat penegak hukum di Amerika Serikat, termasuk FBI.

Kasus ini mencuat setelah penggerebekan rumah jurnalis Washington Post, Hannah Natanson, pada Januari 2026. FBI menyita sejumlah perangkat elektronik, termasuk iPhone dan MacBook Pro miliknya, dalam penyelidikan dugaan kebocoran informasi rahasia ke media.

Meski pengadilan sementara melarang FBI mengakses perangkat tersebut, biro tersebut tetap berupaya mengekstrak data. Namun hasilnya, iPhone milik Natanson tidak bisa dibuka.

Dalam dokumen pengadilan yang dikutip media 404media, FBI mengakui kegagalannya. “Karena iPhone berada dalam Lockdown Mode, tim CART tidak dapat mengekstrak perangkat tersebut,” tulis FBI. Mereka juga menyebut MacBook Pro pribadi Natanson belum bisa dibuat salinannya.

Pernyataan ini menjadi bukti nyata efektivitas Lockdown Mode, fitur yang diperkenalkan Apple pada 2022 untuk pengguna yang menghadapi ancaman serius terhadap keamanan digital mereka.

Penggerebekan terhadap Natanson sendiri menuai kontroversi. Editor eksekutif Washington Post, Matt Murray, menyebut tindakan FBI sangat mengkhawatirkan. “Tindakan agresif yang luar biasa ini menimbulkan pertanyaan serius tentang perlindungan konstitusional terhadap pekerjaan kami,” ujarnya kepada staf.

Apa Itu Lockdown Mode?

Lockdown Mode adalah fitur opsional yang harus diaktifkan secara manual oleh pengguna. Apple menyebutnya sebagai perlindungan ekstrem yang ditujukan bagi individu dengan risiko tinggi, seperti jurnalis investigasi, aktivis, atau tokoh publik.

Saat diaktifkan, Lockdown Mode akan membatasi banyak fungsi iPhone, antara lain memblokir sebagian besar lampiran pesan, menonaktifkan teknologi JavaScript tertentu, menghentikan koneksi data lewat kabel, serta mencegah pemasangan profil konfigurasi baru.

Apple bahkan pernah menawarkan hadiah hingga 2 juta dolar AS bagi peneliti keamanan yang mampu membobol Lockdown Mode, sambil menegaskan fitur ini akan terus dikembangkan dengan perlindungan tambahan.

Dalam kasus Natanson, FBI diduga memiliki surat perintah yang memungkinkan penggunaan biometrik seperti Face ID. Namun, laporan menyebut Natanson tidak menggunakan autentikasi biometrik di iPhone-nya, sehingga akses tetap tertutup. Berbeda dengan MacBook Pro, yang kabarnya bisa dibuka setelah agen memaksa penggunaan Touch ID.

Perlindungan Tambahan dari Apple

Lockdown Mode bukan satu-satunya tameng keamanan Apple. Sejak iOS 18.1 pada 2024, iPhone memiliki fitur reboot otomatis saat perangkat tidak dibuka selama periode tertentu. Fitur ini membuat iPhone kembali ke kondisi before first unlock, yang jauh lebih sulit diakses oleh alat forensik.

Selain itu, Apple juga menghadirkan Advanced Data Protection, yang mengenkripsi data cadangan iCloud, data Wallet, hingga berbagai informasi sensitif lainnya. Fitur ini kini tersedia untuk hampir semua pengguna iPhone, kecuali di Inggris.

Dengan sistem enkripsi ini, bahkan Apple sendiri mengakui hanya bisa menyerahkan data iCloud yang tidak terenkripsi, itupun dengan surat perintah atau subpoena resmi. “Pada akhirnya, hanya sedikit data yang benar-benar bisa diakses,” sesuai pedoman hukum Apple yang mencapai lebih dari 10.000 kata.

FBI vs Enkripsi iPhone

Sejarah tarik-menarik antara FBI dan Apple soal enkripsi sudah berlangsung lama. Pada 2020, FBI mengklaim mampu membobol iPhone 11 Pro Max menggunakan alat forensik pihak ketiga bernama GrayKey. Namun sejak iOS 18.1, alat tersebut dilaporkan tak lagi efektif.

Hingga kini, tidak ada kepastian apakah GrayKey sudah kembali mampu menembus sistem Apple. Yang jelas, dalam kasus Natanson, FBI gagal mengakses iPhone yang dilindungi Lockdown Mode.

Meski demikian, FBI tetap bersikeras menahan perangkat tersebut. Dalam dokumen pengadilan, biro itu menyatakan, “Klaim bahwa penyitaan ini melanggar Amandemen Pertama dan perangkat harus dikembalikan adalah keliru.”

Kasus ini kembali menyoroti benturan antara privasi, kebebasan pers, dan kepentingan penegakan hukum. Namun satu hal jelas: bagi pengguna yang benar-benar membutuhkan perlindungan maksimal, Lockdown Mode iPhone terbukti bukan sekadar fitur, melainkan benteng yang sangat sulit ditembus.