Iran Disebut Ingin Perubahan Lokasi dan Cakupan Isu yang Dibahas dalam Perundingan dengan AS

JAKARTA - Iran menuntut agar pembicaraan dengan Amerika Serikat minggu ini diadakan di Oman, bukan Turki, sementara cakupan isunya dipersempit menjadi negosiasi dua arah hanya mengenai isu nuklir, kata sebuah sumber regional pada Hari Selasa, yang menimbulkan keraguan apakah pertemuan tersebut akan berjalan sesuai rencana.

Upaya Iran untuk mengubah lokasi dan agenda pembicaraan, yang saat ini dijadwalkan pada hari Jumat di Istanbul, terjadi di tengah meningkatnya ketegangan karena AS meningkatkan kekuatan militernya di Timur Tengah.

Negara regional telah mendorong penyelesaian kebuntuan yang telah menyebabkan ancaman serangan udara timbal balik dan memicu kekhawatiran akan eskalasi menjadi perang yang lebih luas.

"Mereka ingin mengubah formatnya, mereka ingin mengubah cakupannya," kata diplomat regional yang mengetahui tuntutan Iran, seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (4/2).

"Mereka hanya ingin membahas masalah nuklir dengan Amerika, sementara AS ingin memasukkan topik lain seperti rudal (balistik) dan aktivitas proksi Iran di kawasan itu," tambahnya.

Terpisah, Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada Fox News pada Hari Selasa pembicaraan dengan Iran masih dijadwalkan akan berlangsung akhir pekan ini, menyusul penembakan jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS USS Abraham Lincoln (CVN-72) di Laut Arab.

"Saya baru saja berbicara dengan utusan khusus (Steve) Witkoff, dan pembicaraan ini hingga saat ini masih dijadwalkan," kata Sekretaris Pers Karoline Leavitt kepada wartawan, menambahkan pembicaraan tersebut akan berlangsung "akhir minggu ini," seperti melansir Al Arabiya dari AFP.

"Presiden Trump selalu ingin mengutamakan diplomasi terlebih dahulu, tetapi jelas dibutuhkan kerja sama kedua pihak," kata Leavitt di luar Gedung Putih.

Pertemuan antara Witkoff, seorang pengusaha yang telah ditunjuk Presiden Trump sebagai negosiator konflik global kelilingnya, dan para pejabat Iran "mungkin" akan berlangsung di Turki, kata sebuah sumber yang dekat dengan masalah tersebut.

Rencanya, Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, dijadwalkan ikut dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, menurut sumber yang mengetahui hal ini.

Selain itu, sejumlah Menteri dari beberapa negara lain di kawasan itu juga diharapkan hadir.

Sebuah sumber diplomatik Iran sebelumnya mengatakan, pandangan Tehran tentang pembicaraan tersebut tidak optimis maupun pesimis, menambahkan bahwa kemampuan pertahanan Iran tidak dapat dinegosiasikan dan mereka siap untuk skenario apa pun.

"Masih harus dilihat apakah Amerika Serikat juga bermaksud untuk melakukan negosiasi serius yang berorientasi pada hasil atau tidak," kata sumber tersebut.

Seorang pejabat regional mengatakan, prioritas upaya diplomatik adalah untuk menghindari konflik dan meredakan ketegangan.

Semula, kekuatan regional termasuk Pakistan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, Oman, dan Uni Emirat Arab juga diundang, katanya. Tetapi mengingat tuntutan terbaru Iran, belum jelas apakah partisipasi mereka akan dilanjutkan.