Rusia Siap Tatap Dunia Baru Usai Perjanjian Batasan Nuklir AS Berakhir 5 Februari
JAKARTA - Pemerintah Rusia menyebutkan siap menatap dunia baru dengan adanya batasan pengendalian senjata nuklir usai perjanjian New START antara negaranya dengan Amerika Serikat (AS) berakhir pada akhir pekan ini.
Juru bicara Kremlin untuk pengendalian senjata sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan, ada pengecualian terkait hal itu, yakni jika Rusia-AS mencapai kesepakatan baru di menit-menit terakhir, sebelum perjanjian New START berakhir pada Kamis 5 Februari.
“Ini adalah momen baru, realitas baru — kami siap untuk itu,” kata Ryabkov kepada kantor berita Rusia, Tass, di tengah kunjungannya ke Beijing, China, untuk “konsultasi stabilitas strategis” pada Selasa 3 Februari.
Baca juga:
- Sengit! Tentara Sudan vs Milisi RSF Saling Serang di Kordofan dan Zalingei
- Nyaris Bugil di File Epstein, Eks Dubes Inggris Mundur dari Partai Buruh Akui Tidak Ingat
- Seskab Beberkan Isi Pertemuan Prabowo, Dirut Garuda Indonesia dan Produsen Pesawat Asal Brasil
- WNA Swiss Terpidana Eksploitasi Air Gili Trawangan Kabur ke Luar Negeri
Perjanjian New START, yang membatasi rudal dan hulu ledak strategis berjumlah 1.550, ditandatangani Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Presiden AS Barack Obama yang menjabat pada tahun 2010.
Saat ditanya New York Times bulan lalu, Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa ia akan membiarkan perjanjian tersebut berakhir.
Namun, Trump belum secara resmi menanggapi proposal Rusia untuk terus mematuhi batasan rudal dan hulu ledak dalam perjanjian tersebut selama satu tahun lagi untuk memberi waktu guna memikirkan apa yang harus dilakukan setelah perjanjian tersebut berakhir.
“Kurangnya jawaban juga merupakan jawaban,” sambung Ryabkov.