Indonesia Siap Fasilitasi Dialog Inklusif, Menlu Sugiono: Rekonsiliasi di Myanmar Prioritas Utama
JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan rekonsiliasi di Myanmar tetap menjadi prioritas utama ASEAN, dengan Indonesia siap memfasilitasi dialog inklusif seluruh pihak di Negeri Seribu Pagoda tersebut.
Hal itu dikatakan Menlu Sugiono saat menghadiri Extended Informal Consultation on The Implementation of The Five-Point Consensus pada Hari Rabu.
Kementerian Luar Negeri RI mengatakan, pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri (AMM) Retreat ASEAN yang dilakukan di Cebu, Filipina
Dalam pertemuan ini, Menteri Luar Negeri Filipina selaku Utusan Khusus Ketua ASEAN untuk Myanmar memberikan briefing mengenai perkembangan terkini situasi di Myanmar.
Pertemuan tersebut membahas secara mendalam implementasi Konsensus Lima Poin (5PC) serta prioritas kerja ASEAN ke depan dalam upaya penyelesaian krisis Myanmar.
Pada gilirannya Menlu Sugiono menegaskan, situasi di Myanmar merupakan salah satu tantangan bagi ketangguhan dan kredibilitas ASEAN.
"Hal ini (kunjungan utusan khusus ke Myanmar) menunjukkan komitmen ASEAN untuk memastikan rekonsiliasi di Myanmar tetap menjadi prioritas utama," kata Menlu RI, melansir keterangan Kemlu RI, Kamis (29/1).
Lebih jauh dikatakan, berangkat dari komitmen bersama untuk menciptakan perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan di kawasan, ASEAN diharapkan dapat terus terlibat secara konstruktif dan konsisten dalam mendukung proses perdamaian di Myanmar.
Secara khusus, Indonesia menyampaikan apresiasi terhadap upaya Menteri Luar Negeri Filipina yang telah melakukan pertemuan dengan berbagai pihak di Myanmar. Langkah ini dinilai sebagai kontribusi nyata yang relevan.
Baca juga:
Ke depan, dibutuhkan upaya-upaya terukur dan kreatif untuk membangun stabilitas yang langgeng dan inklusif, serta fondasi yang kokoh bagi proses pembangunan bangsa (nation-building) Myanmar.
Sebagai bentuk komitmen konkret, Indonesia menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog yang inklusif dengan seluruh pihak terkait di Myanmar.
"Indonesia juga terbuka untuk menawarkan dukungan praktis, termasuk berbagi pengalaman berharga kami dalam pembangunan bangsa, proses rekonsiliasi, dan penyelenggaraan otonomi daerah," pungkas Menlu.