Sekolahnya Masih Jadi Tempat Pengungsian, Ratusan Pelajar SMAN 1 Tukka Tapteng Belajar di Tenda Darurat
JAKARTA - Ratusan pelajar SMA Negeri 1 Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara (Sumut), terpaksa belajar di tenda darurat akibat bangunan sekolah mereka digunakan sebagai tempat pengungsian penyintas bencana banjir bandang dan longsor akhir November 2026.
“27 ruang kelas yang ada di sekolah ini sudah ditempati para pengungsi sehingga para siswa melakukan penyesuaian,” kata Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Tukka, Faisal Napitupulu di Tukka, Selasa, disitat Antara.
Menurut dia, total ada 940 siswa terbagi 27 rombongan belajar yang bersekolah di SMA Negeri 1 Tukka tersebut.
Ia menambahkan, aktivitas belajar di sekolah ini dimulai pada 5 Januari 2025 dan saat itu hanya sebagian siswa yang mengikuti pembelajaran luring.
Kemudian dengan bertambahnya jumlah tenda maka jumlah siswa yang belajar di tenda ditambah menjadi empat kelas.
“Mereka ini belajar dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB dan memang anak-anak mengeluhkan kondisi panas di dalam tenda,” kata dia.
Menurut dia, anak-anak yang belajar di sekolah dibagi dan mereka mengikuti pembelajaran tiga kali dalam seminggu dan sisanya mengikuti pelajaran jarak jauh secara daring. Sejauh ini semua berjalan baik dan motivasi anak-anak untuk belajar cukup tinggi.
Faisal bercerita saat kejadian banjir bandang dirinya baru dapat mendatangi sekolah tiga hari setelah kejadian.
Sewaktu dirinya datang, para pengungsi sudah ada di lokasi tersebut dan menempati ruang kelas yang ada. "Ini inisiatif pemerintah menjadikan lokasi pengungsian karena rumah mereka sudah hilang ditelan bencana,” kata dia.
Bahkan saat ini ada personel TNI yang mendirikan posko di sekitar sekolah dan mereka membantu memenuhi kebutuhan warga dengan membuka dapur umum.
“Kami memastikan proses pembelajaran berjalan baik di tengah proses pemulihan ini,” kata dia.
Baca juga:
Sementara siswa kelas 12 SMA Negeri 1 Tukka, Magfiroh Penggabean mengatakan, rumah keluarganya juga terdampak banjir dan saat ini dirinya mengikuti pembelajaran sesuai dengan yang dijadwalkan. "Kami sekolah tiga hari dalam seminggu, Senin, Rabu, Kamis,” kata dia.
Dia memahami kondisi yang ada dan merasa tenang meski belajar di dalam tenda darurat. "Masalahnya cuma panas saja tapi karena bersama teman-teman saya tetap bersemangat sekolah,” kata dia.