Dari VUCA ke TUNA, Solikin Juhro Beberkan Peta Jalan Hadapi Ketidakpastian Global

JAKARTA - Komisi XI DPR RI resmi memulai rangkaian uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap calon anggota Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Adapun, Solikin M. Juhro menjadi kandidat pertama yang mengikuti proses tersebut dan saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia.

Dalam paparannya, Solikin menjelaskan bahwa dinamika ekonomi dan geopolitik global saat ini dipenuhi oleh ketidakpastian yang telah menjadi kenormalan baru.

Ia menyampaikan jika sebelumnya dunia berada pada era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), kini telah bergeser menuju era TUNA (Turbulence, Uncertainty, Novelty, Ambiguity),

Menurutnya di mana gejolak semakin kuat, ketidakpastian berlanjut, serta muncul berbagai kebaruan, terutama akibat percepatan digitalisasi.

"Jadi volatilitas sudah menjadi turbulence dan juga disitu tidak hanya kompleks tetapi ada novelty-novelty kebaruan di era digital dengan kebaruan semakin tinggi. Jadi dari VUCA ke TUNA," jelasnya.

Ia menambahkan memasuki tahun 2026, lanskap ekonomi global masih dibayangi tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Solikin menyampaikan bahwa ketegangan geopolitik yang berkepanjangan menahan laju pertumbuhan ekonomi dunia pada level moderat, sementara volatilitas pasar keuangan global tetap tinggi.

Menurutnya kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pencapaian cita-cita Indonesia menuju negara maju.

"Tentunya kita perlu menavigasi cita-cita tersebut agar bisa tercapai dengan selaras dan tentunya melalui visi yang disampaikan disini adalah memperkuat sinergi, mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, bertahan dan juga inklusif visi ini bukan sekedar menjaga laju pertumbuhan di tengah tekanan global, melainkan juga menegaskan bahwa kualitas pertumbuhan adalah kunci," tuturnya.

Ia menekankan hal tersebut sejalan dengan mandat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan.

Menurutnya visi tersebut dijabarkan ke dalam tiga misi utama, yaitu stabilitas yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta ekonomi yang inklusif

"Ketiga misi ini pada dasarnya sejalan dengan semangat Sumitronomics, yaitu membangun kekuatan ekonomi dari dalam, memperkuat fondasi struktural dan memastikan setiap kebijakan bermuara pada kesejahteraan rakyat banyak," tegasnya.

Untuk menerjemahkan tiga misi tersebut ke dalam langkah yang konkret dan terukur, Solikin mengusulkan delapan strategi kebijakan yang terintegrasi dalam satu kerangka besar yang disingkat “Semangka”.

Solikin menjelaskan istilah “Semangka” merupakan akronim dari delapan fokus kebijakan, yakni stabilitas makroekonomi dan keuangan, ekonomi syariah dan pesantren, makroprudensial inovatif, akselerasi reformasi struktural, navigasi stabilisasi harga pangan, gerak UMKM dan ekonomi kreatif, keandalan digitalisasi sistem pembayaran, dan aksi bersama sinergi dan kolaborasi.

Dia menambahkan, seluruh strategi tersebut dirancang saling menguatkan dan tidak berdiri sendiri, dengan sinergi sebagai kunci utama keberhasilannya.

"Itu tidak berdiri sendiri tapi saling menguatkan satu sama lain. Kami pilih semangka karena hampir setiap pertemuan kita menjumpai semangka, jadi semangka ini hijau di luar merah di dalam, dan berbiji sebagai sumber keberlanjutan," tuturnya.