Mengetahui Huruf Hijaiyah yang Tidak Bisa Disambung agar Tidak Salah Menulis

YOGYAKARTA - Terdapat beberapa huruf hijaiyah yang tidak bisa disambung yang sering membuat pemula keliru saat belajar menulis Arab, terutama ketika menyusun kata sederhana dalam Al-Qur’an maupun tulisan sehari-hari.

Kesalahan memahami bentuk huruf dapat mengubah tampilan tulisan dan makna kata. Karena itu, penting mengenali aturan penyambungan huruf sejak awal proses belajar.

Huruf Hijaiyah yang Tidak Bisa Disambung

Huruf hijaiyah yang dalam penulisannya tidak bisa disambung adalah huruf-huruf tertentu yang tidak dapat disambung dengan huruf setelahnya, meskipun berada di tengah kata.

Artinya, huruf-huruf tersebut hanya bisa terhubung dengan huruf sebelumnya, tetapi harus terputus dengan huruf sesudahnya.

Adapun jumlah huruf hijaiyah yang tidak bisa disambung ada enam, yaitu Alif, Dal, Dzal, Ra, Za, dan Wau (ا د ذ ر ز و).

Keenam huruf ini memiliki bentuk khusus yang menyebabkan sambungan harus berhenti, sehingga penulisan kata akan terlihat terputus lalu dilanjutkan dengan bentuk huruf baru. Berikut enam huruf hijaiyah yang tidak bisa disambung dengan huruf sesudahnya adalah:

  • Alif (ا)
  • Dal (د)
  • Dzal (ذ)
  • Ra (ر)
  • Za (ز)
  • Wau (و)

Ketika huruf-huruf tersebut berada di tengah kata, penulisannya harus terpisah. Inilah sebabnya mengapa dalam beberapa kata Arab terlihat adanya “putus sambung” meskipun kata tersebut terdiri dari lebih dari dua huruf.

Contoh Penulisan dalam Kata Arab

Contoh Huruf Alif (ا)

Alif tidak bisa menyambung ke huruf setelahnya.

  • بَا + ت = بَاتَ
  • سَا + لِم = سَالِم
  • قَا + لَ = قَالَ

Berdasarkan contoh di atas terlihat bahwa setelah ا, huruf berikutnya berdiri sendiri.

Contoh Huruf Dal (د)

  • بَد + ر = بَدْر
  • أَد + ب = أَدَب
  • حَد + يث = حَدِيث

Baca juga artikel yang membahas Cara Belajar Bahasa Arab dengan Menyenangkan

Terlihat huruf setelah د tidak disambung.

Contoh Huruf Dzal (ذ)

  • أَذ + ن = أَذَن
  • إِذ + ن = إِذْن
  • لَذ + يذ = لَذِيذ

Huruf ذ selalu memutus sambungan ke huruf berikutnya.

Contoh Huruf Ra (ر)

  • بَر + كَة = بَرَكَة
  • مَر + حَبَا = مَرْحَبَا
  • قَر + أَ = قَرَأَ

Dapat dilihat setelah huruf ر, huruf berikutnya harus ditulis terpisah.

Contoh Huruf Za (ز)

  • رِز + ق = رِزْق
  • فَو + ز = فَوْز
  • زُر + قَة = زُرْقَة

Huruf ز tidak bisa menyambung ke huruf sesudahnya.

Contoh Huruf Wau (و)

  • نُو + ر = نُور
  • قَو + م = قَوْم
  • صَو + ت = صَوْت

Dapat dilihat huruf setelah و selalu berdiri sendiri.

Kaidah Penulisan Arab: Rasm Imla’i dan Rasm Utsmani

Pada dasarnya, penulisan bahasa Arab mengikuti kaidah rasm imla’i, yaitu penulisan yang menyesuaikan antara apa yang diucapkan dan apa yang ditulis tanpa penambahan atau pengurangan huruf.

Meskipun demikian, dilansir VOI dari laman NU Online penulisan mushaf Al-Qur’an memiliki standar tersendiri yang dikenal sebagai rasm mushaf utsmani.

Rasm mushaf utsmani adalah sistem penulisan Al-Qur’an yang disahkan pada masa Khalifah Utsman bin ‘Affan.

Dalam rasm ini, terdapat beberapa kaidah khusus seperti pengurangan huruf (hadf), penambahan huruf, aturan penulisan hamzah, pergantian huruf, persambungan dan pemisahan kata, serta penulisan lafadz yang memiliki dua kemungkinan bacaan.

Oleh karena adanya perbedaan kaidah ini, tidak semua penulisan dalam Al-Qur’an bisa dijadikan standar baku untuk penulisan bahasa Arab secara umum.

Maka dari itu, memahami huruf hijaiyah yang tidak bisa disambung merupakan fondasi penting dalam belajar menulis dan membaca bahasa Arab.