Tiba-tiba Flu Berat, Sekjen PBB Batal Hadiri WEF Davos di tengah Ketegangan Ancaman Trump
JAKARTA - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres membatalkan rencana untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, karena flu berat.
"Sekjen saat ini berada di dekat Jenewa, Swiss, di mana dia bertemu dengan perwakilan khusus dan pribadinya serta para utusan. Setelah pertemuan ini, dia akan kembali ke New York dan telah membatalkan rencana perjalanannya ke Davos karena flu berat," kata juru bicara Guterres, Farhan Haq, dilansir ANTARA dari Anadolu, Selasa, 20 Januari.
Davos adalah nama informal untuk pertemuan WEF, yang diadakan setiap tahun pada Januari sebagai pertemuan global utama di mana para pemimpin politik, kepala perusahaan global, akademisi, dan tokoh masyarakat membahas isu-isu ekonomi, geopolitik, dan sosial.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tahun ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik setelah serangkaian langkah oleh Presiden AS Donald Trump membuat sekutu dan diplomat Eropa gelisah menjelang pertemuan tersebut.
Pekan lalu, Gedung Putih mengumumkan pembentukan dewan baru untuk "memainkan peran penting dalam memenuhi" 20 poin rencana Trump untuk mengakhiri perang Israel di Gaza secara permanen dan membangun kembali wilayah tersebut.
Dewan itu juga akan "memberikan pengawasan strategis, memobilisasi sumber daya internasional, dan memastikan akuntabilitas saat Gaza bertransisi dari konflik menuju perdamaian dan pembangunan."
AS juga membentuk Komite Nasional untuk Administrasi Gaza untuk mengimplementasikan fase kedua dari Rencana Komprehensif Trump untuk Mengakhiri Konflik Gaza, bersama dengan Dewan Eksekutif pendiri dan Dewan Eksekutif Gaza untuk mendukung kerangka kerja transisi.
Trump telah mengundang kepala negara dan pemerintahan tambahan untuk bergabung dengan dewan tersebut, termasuk Presiden Turki Recept Tayyip Erdogan.
Secara terpisah, Trump pada pekan lalu menyatakan Washington akan memberlakukan tarif atas produk dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari, sebesar 10 persen dan meningkat hingga 25 persen pada Juni karena penolakan mereka terhadap rencana AS terkait Greenland.
Presiden AS mengatakan langkah-langkah tersebut akan tetap berlaku sampai kesepakatan tercapai untuk "pembelian penuh dan total" wilayah pulau Arktik tersebut dari Denmark oleh AS, dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional dan mengeklaim "perdamaian dunia dipertaruhkan."
Greenland, wilayah yang berpemerintahan sendiri di dalam Kerajaan Denmark, telah menarik minat AS karena lokasinya yang strategis dan sumber daya mineralnya, tetapi baik Denmark maupun Greenland telah menolak usulan penjualan apa pun, menegaskan kembali kedaulatan Denmark atas pulau tersebut.