Elisha Danielle Mengenang Masa Remaja lewat Single Freeze

JAKARTA - Penyanyi-penulis lagu kelahiran Singapura, Elisha Danielle, kembali meramaikan industri musik Tanah Air dengan merilis single terbarunya yang berjudul “Freeze”.

Karya terbaru ini menjadi sebuah narasi personal bagi Elisha—tentang jarak, rindu, dan kehangatan saat kembali terhubung dengan tempat yang dicintainya.

Terinspirasi dari masa remajanya saat menetap di Perth, Australia, Elisha mencoba merangkum memori tentang kota tersebut ke dalam sebuah komposisi yang emosional.

Baginya, Perth bukan sekadar titik koordinat, melainkan rumah bagi persahabatan yang membentuk karakternya hingga saat ini.

“Setiap kali aku meninggalkan Perth, rasanya seperti menekan tombol jeda pada sesuatu yang tidak ingin aku lepaskan,” kata Elisha mengenai keresahan yang mendasari lagu tersebut, Senin, 12 Januari.

Menurutnya, setiap kali ia kembali, semuanya terasa pas lagi: orang-orangnya, energinya, dan koneksinya. Semuanya terasa mudah dan akrab, seperti melanjutkan percakapan yang sempat terhenti di tengah kalimat.

Serupa dengan single debut “Pretty Easy”, proses kreatif ‘Freeze’ berlangsung dalam sesi penulisan lagu di Ubud, Bali.

Dalam proyek ini, Elisha kembali berkolaborasi dengan Petra Sihombing yang bertindak sebagai produser sekaligus komposer pendamping.

Secara musikal, single ini menunjukkan pergeseran gaya yang menarik dari Elisha. Jika single debutnya kental dengan elemen synth-pop, “Freeze” justru tampil lebih organik dengan dominasi petikan gitar dan lapisan suara ambient.

Aransemen ini sengaja dipilih untuk menciptakan nuansa yang reflektif namun tetap menyisipkan rasa optimistis.

Elisha menekankan, pesan utama dalam lagu ini adalah tentang memandang jarak dari perspektif positif. Ia berpendapat bahwa jarak tidak selalu harus terasa menyedihkan.

“Kadang waktu yang terpisah justru memperkuat hubungan. Memberi ruang untuk tumbuh, sehingga ketika kembali, semuanya terasa lebih dalam dan bermakna,” tuturnya.

Untuk melengkapi rilisan tersebut, sebuah video musik dengan visual sinematik juga telah diluncurkan. Klip tersebut menampilkan set taman mini yang dibangun menggunakan tanaman asli guna memperkuat tema nostalgia.

Proses syuting video musik ini diakui Elisha cukup menantang sekaligus berkesan, karena memakan waktu hingga 18 jam demi mendapatkan pencahayaan alami yang diinginkan.

Dengan dengan dua single di portofolionya, Elisha Danielle telah menunjukkan identitas musikalnya: lembut tapi percaya diri, introspektif namun penuh ekspresi.

“Freeze” menegaskan posisinya sebagai salah satu penyanyi-penulis lagu muda yang mampu memadukan kepekaan emosi dengan kedalaman visual yang sinematik.