Paket MBG Berisi Makanan UPF, Awasi Dampaknya
JAKARTA - Paket makan bergizi gratis (MBG) yang diberikan saat libur sekolah menjadi sorotan. Selain dinilai pemborosan anggaran, kebijakan ini dinilai tidak sesuai dengan slogan program itu sendiri, yaitu memberikan makan bergizi gratis.
Badan Gizi Nasional (BGN) berkukuh memberikan paket MBG meski hampir semua sekolah di Indonesia tengah libur semester pertama, berbarengan dengan libur Natal 2025 dan 2026.
Dalam paket MBG yang diberikan umumnya berisi roti tawar, kacang polong, biskuit, telur rebut, dan buah.
Namun pemberian paket makanan kering ini kemudian menjadi perbincangan. Masyarakat menilai makanan kering atau minuman kemasan yang diberikan mengandung kadar gula yang cukup tinggi, sehingga jauh dari kata bergizi.
Bahkan sejumlah orang tua mendapati paket MBG yang diberikan justru mendekati masa kedaluwarsa.
Paket Makanan Tak Menyehatkan
Penyaluran MBG pada saat libur sekolah tertuang dalam Keputsan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 52 Tahun 2025 tentang Pedoman Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Selama Libur Sekolah.
Dalam peraturan tersebut tertulis bahwa penyesuaian paket makan bergizi gratis selama hari libur tetap mempertimbangkan aspek pemenuhan gizi, higienis, keamanan pangan dan kepraktisan serta kerapihan dalam pengemasan makanan.
Namun, melihat pengakuan masyarakat soal menu makanan kering yang diberikan, ahli gizi Tan Shot Yen menuturkan, pangan olahan dalam paket MBG bisa dibilang tidak menyehatkan.
Dokter Tan mengaku heran karena dalam rujukan yang dibuat BGN, menunya tidak jelas karena hanya menyebutkan roti, telur, susu. Padahal, roti tidak termasuk makanan pokok di negara beriklim tropis seperti Indonesia.
"Mana bisa sih di negara tropis begini makan roti yang disuruh simpan tiga sampai enam hari? Ya jelas bulukan dengan iklim tropis di Indonesia," katanya.
Rujukan menu yang diberikan BGN pada akhirnya diikuti pengelola Satua Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan menambahkan aneka makanan kering yang termasuk dalam makanan ultra-proses atau UPF.
UPF Tingkatkan Risiko Kanker
UPF adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makanan yang telah mengalami banyak tahapan pemrosesan industri.
Tidak hanya sekadar dimasak atau diawetkan, UPF biasanya dibuat dari bahan hasil ekstraksi, seperti pati, protein terisolasi, minyak terhidrogenasi, yang kemudian dicampur dengan zat aditif seperti pemanis buatan, pewarna, penguat rasa, pengawet, dan pengemulsi. Bahan-bahan ini jarang sekali ditemukan di dapur rumah tangga.
Ciri khas UPF adalah tampilannya yang sangat menarik, rasanya intens, praktis dikonsumsi, dan bisa bertahan lama di rak toko. Tidak heran kalau produk seperti mi instan, biskuit manis, sosis, nugget, snack kemasan, minuman bersoda, hingga makanan beku siap saji masuk dalam kategori ini.
Memberikan makanan UPF dalam program MBG disayangkan banyak pihak. UPF kerap diasosiasikan dengan makanan tidak sehat karena biasanya tinggi kalori, gula garam, serta lemah jenuh tapi rendah serat, vitamin, dan mineral.
Peredaran UPF sendiri tengah menjadi perhatian di Indonesia, bahkan global. Konsumsi UPF secara berlebihan berpotensi mengubah pola makan jadi tidak sehat dan meningkatkan risiko obesitas,abetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kanker.
Hal ini didukung dengan publikasi Critical Review in Food Science and Nutrition pada 2025. Studi lain yang dipublikasikan di Nutrition Journal tahun 2020 meneliti ratusan ribu peserta yang juga dikaitkan dengan konsumsi UPF dengan penyakit obesitas, sindrom metabolik, serta depresi.
Sebenarnya, jika ditarik lebih jauh, masalahnya bukan hanya soal zat tambahan dalam UPF, tetapi bagaimana makanan ini memengaruhi pola maka seseoang secara keseluruhan.
Berdampak pada Kesehatan Mental
UPF, menurut sejumlah penelitian, cenderung membuat orang makan lebih banyak karena rasanya memang dirancang agar sangat enak dan sulit dihentikan (palatable).
Selain itu, teksturnya biasanya lembut dan praktis, serta minim serat membuat proses makan lebih cepat, sehingga otak tidak sempat mengirim sinyal kenyang.
Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr. dr Merita Arini, MMR, menegaskan, lonjakan konsumsi UPF tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tapi juga berdampak pada kesehatan mental.
Istilah UPF, kata dr, Merita, merujuk pada kateggori tertinggi dalam sistem NOVA Food Classification yang dikembangkan ilmuwan asal Brasil.
UPF, ucap dr Merita, mencakup makanan yang diproses secara intensif menggunakan teknik industri sehingga bentuk dan struktur aslinya hampir hilang.
“Makanan ultra-proses sudah sangat jauh dari bahan alaminya. Kandungan asli tinggal sedikit, sementara zat tambahan seperti aditif, perasa, pengawet, dan bahan kimia lainnya justru mendominasi. Pada crackers atau snack, misalnya, bahan utamanya seperti kentang bisa tinggal hanya lima persen,” jelas dr. Merita, mengutip laman UMY.
"Ada penelitian yang menunjukkan keterkaitan UPF dengan gangguan tidur, kecemasan, hingga gangguan psikologis lainnya. Hal ini karena UPF bersifat pro-inflamas. Nutrisi rendah, kalori tinggi, kadar garam tinggi, serta bahan kimia tambahan menyebabkan low-grade inflammation kronis di tubuh,” ia mengimbuhkan.
Pada anak-anak, kebiasaan mengonsumsi UPF berebihan bisa dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, gigi berlubang, hingga menurunnya kualitas pola maka seimbang.
Studi jangka panjang juga menunjukkan bahwa pola makan yang terbentuk di masa kecil cenderung bertahan hingga dewasa. Dengan kata lain, jika sejak sekolah sudah terbiasa dengan makanan UPF, besar kemungkina ini akan terbawa sampai dewasa.
Itulah sebabnya dalam program MBG sebaiknya tidak mengandalkan makanan UPF sepert nugget, sosis, biskuit, dan lain sebagainya demi tercapainya tujuan awal yaitu memperbaiki status gizi anak agar menjadi generasi emas.