Heidi Klum Jalani Detoks Cacing Parasit yang Lagi Viral, Pakar Ingatkan Risiko

JAKARTA - Rencana supermodel Heidi Klum untuk melakukan worm cleansing alias pembersihan tubuh dari cacing parasit melalui program herbal yang terinspirasi dari media sosial menuai peringatan dari para ahli penyakit menular. Mereka menekankan metode detoks semacam ini belum terbukti secara medis dan justru berpotensi membahayakan kesehatan.

Klum mengungkapkan kepada Wall Street Journal bahwa dia dan suaminya memulai program detoks tersebut setelah melihat banyak unggahan di Instagram tentang hal serupa.

Ia dan suaminya mengonsumsi pil yang mengandung ramuan seperti cengkeh dan biji pepaya, serta suplemen yang diklaim dapat mengeluarkan logam dari tubuh. Namun ia tidak menyebutkan program tersebut direkomendasikan atau diawasi oleh tenaga medis profesional.

Para ahli menegaskan infeksi parasit memang nyata dan menimbulkan penyakit serius, tetapi memerlukan tes dan diagnosis medis yang tepat, serta umumnya ditangani dengan obat antiparasit resep dokter, bukan hanya herbal atau suplemen bebas.

"Mendengar seseorang menganjurkan 'detoks cacing dan parasit' sangat mengkhawatirkan karena ini merupakan praktik yang tidak berdasar secara medis dan berpotensi membahayakan," kata Choukri Ben Mamoun, PhD, pakar penyakit menular dari Yale School of Medicine, dikutip dari laman MedPage Today.

Anthony K. Leung, DO, spesialis penyakit menular dari Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa infeksi parasit (helminth) biasanya terbagi menjadi tiga kategori yaitu nematoda (cacing gelang), cestoda (cacing pita), dan trematoda (cacing pipih).

Infeksi ini bisa memengaruhi berbagai organ, termasuk saluran pencernaan, mata, sistem saraf pusat, paru-paru, dan sistem limfatik.

Mencoba mendiagnosis dan mengobati diri sendiri dengan detoks seperti yang dilakukan Klum dapat menimbulkan risiko kesehatan, termasuk kekurangan vitamin dan nutrisi, penurunan energi, dehidrasi akibat diare, dan masalah pencernaan lainnya.

"Untuk mendiagnosis infeksi parasit dengan benar, tenaga medis perlu mengambil riwayat medis yang lengkap," kata Leung.

Hal ini termasuk pola makan, kemungkinan terpapar, riwayat perjalanan, dan faktor risiko lain. Tanpa diagnosis pasti dan perawatan medis yang tepat, detoks yang belum terbukti bisa berbahaya tanpa menyelesaikan masalah kesehatan yang sebenarnya.

Klum menyebut "kita semua memiliki parasit dan cacing", namun Choukri Ben Mamoun menegaskan tidak ada bukti medis kredibel orang sehat memiliki parasit tersembunyi yang harus dibersihkan. Banyak organisme dalam usus sebenarnya penting dan bermanfaat bagi kesehatan manusia.

"Iya usus kita penuh dengan organisme hidup, itu yang disebut mikrobioma, tapi sebagian besar tidak berbahaya atau justru baik untuk tubuh," jelas Shelli Farhadian, MD, PhD, pakar penyakit menular dari Yale.

"Menghapusnya tanpa alasan sama seperti menyemprotkan pestisida ke taman yang sehat," lanjutnya.

Jika dicurigai ada infeksi parasit, pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter dan menjalani tes yang sesuai, biasanya pemeriksaan tinja.

"Tes ini akan menunjukkan apakah ada infeksi atau tidak. Jika ada, telur atau bagian parasit biasanya akan ditemukan di tinja. Tidak perlu alat-alat mahal." beber Abhay Satoskar, MD, PhD, profesor patologi dan mikrobiologi di Ohio State University Wexner Medical Center.

Dokter juga kemungkinan akan menerima pertanyaan dari pasien tentang detoks herbal setelah terpapar konten online. Menurut David Purow, MD, ahli gastroenterologi di Huntington Hospital, New York, penting untuk diskusi jujur dengan pasien mengenai kurangnya bukti ilmiah dari produk herbal tersebut. Namun pasien juga harus merasa didengarkan agar hubungan antara dokter dan pasien tetap konstruktif.