Siklon Senyar Menjauh, Sumbar Masih dalam Puncak Musim Hujan Desember Ini

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan jika eks siklon tropis Senyar telah menjauh dari wilayah Indonesia. Namun, hujan masih berpotensi tinggi karena Sumatra Barat masih berada dalam puncak musim hujan hingga Desember.

“Dinamika atmosfer seperti IOD, suhu permukaan laut, dan konvergensi angin masih aktif sehingga berpotensi memicu awan hujan dalam beberapa hari ke depan,” ujar Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan dilansir dari Antara, Senin 1 Desember.

Pihaknya mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap cuaca ekstrem dan kembali ke rumah secara bertahap dari posko pengungsian. BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, memperhatikan kondisi lingkungan, dan mulai kembali ke rumah secara bertahap dari posko pengungsian.

“Penting bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan agar risiko bencana hidrometeorologi dapat ditekan seminimal mungkin,” ucap dia.

Kewaspadaan tinggi diminta untuk dilakukan sedikitnya di 16 kabupaten/kota, antara lain Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Bukittinggi, Tanah Datar, Padang Panjang, Padang Pariaman, Pariaman, Padang, Pesisir Selatan, Sawahlunto, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Kota Solok, Pasaman, Lima Puluh Kota, dan Payakumbuh.

Di sisi lain, pemerintah memfokuskan upaya penanganan bencana di Sumatra Barat pada pembukaan akses transportasi serta pemulihan infrastruktur vital. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyatakan proses pemulihan di wilayah tersebut menunjukkan perkembangan berarti setelah tiga hari penanganan intensif.

“Sumatra Barat sudah memasuki fase pemulihan lebih cepat di hari ketiga. Kondisi cuaca juga lebih mendukung karena tidak terjadi hujan, dan operasi modifikasi cuaca tetap dilakukan,” ujarnya.

BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana mencapai 129 orang, sementara 118 orang masih dinyatakan hilang dan 16 orang lainnya mengalami luka-luka. Di Kabupaten Padang Pariaman, sejumlah pengungsi mulai kembali ke rumah untuk membersihkan sisa material banjir dan longsor.

Wilayah dengan dampak terparah tercatat berada di Kabupaten Agam, dengan 87 korban meninggal dunia dan 76 orang masih dalam pencarian. Secara keseluruhan, bencana melanda delapan kabupaten dan kota, yakni Agam, Solok, Pesisir Selatan, Padang, Padang Panjang, Pariaman, Tanah Datar, serta Bukittinggi.

Jumlah warga yang mengungsi dilaporkan mencapai 77.918 jiwa. Banyak di antaranya memilih beraktivitas membersihkan rumah pada siang hari, lalu kembali ke posko pengungsian pada malam hari demi keamanan.

Kerusakan infrastruktur masih menjadi perhatian utama, khususnya jembatan putus, jalan amblas, serta terganggunya jalur transportasi nasional dan provinsi. Sejumlah ruas jalan nasional yang belum bisa dilalui berada di kawasan Padang Panjang hingga Sicincin.

Bantuan yang telah disalurkan meliputi kebutuhan pokok, perlengkapan kebersihan, makanan siap saji, selimut, tenda pengungsian, hingga pengerahan alat berat seperti ekskavator. Seluruh personel BNPB juga disiagakan di titik terdampak untuk mendampingi unsur Forkopimda dalam penanganan lapangan.

“Sudah empat hari tim berada di lapangan dan seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana,” kata Suharyanto.

Untuk mendukung operasi darurat, pemerintah mengerahkan satu helikopter BNPB, satu pesawat jenis fixed wing, serta satu helikopter dari Basarnas. Namun, pemanfaatan armada udara masih terbatas karena sebagian jalur darat masih dapat dilalui.

Sementara itu, Posko Terpadu Penanggulangan Bencana Sumbar mencatat sedikitnya 131 personel terlibat langsung dalam penanganan banjir, galodo, sedimentasi sungai, dan kerusakan saluran irigasi. Fokus utama diarahkan pada pemulihan aliran sungai serta distribusi air bagi permukiman dan sektor pertanian.