Antusias Warga Lebanon Tunggu Paus Leo XIV yang Bakal Berdoa di Lokasi Ledakan Beirut
JAKARTA - Paus Leo XIV dijadwalkan akan melakukan kunjungan perdana sejak menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik ke Lebanon pekan ini.
Paus kelahiran AS itu direncanakan tiba di Beirut pada Minggu 30 November. Keesokan harinya Leo bakal mengunjungi Biara Santo Maron Annaya sekaligus makam Santo Charbel di kawasan pegunungan Lebanon utara.
Kepala Biara Tannous Nehme mengaku antusias menunggu kunjungan Paus kr biara yang diperkirakannya menarik sekitar tiga juta pengunjung setiap tahun.
“Bukan hanya umat Kristen — banyak umat Muslim yang datang berkunjung, banyak pula orang non-religius. Mereka datang dari mana-mana — Afrika, Eropa, Rusia,” kata Nehme dikutip dari AFP, Selasa 25 November.
Claude Issa, 56, seorang ibu dari tiga anak, warga Lebanon juga serupa dengan Kepala Biara. Menurutnya, kedatangan Paus Leo dapat membawa optimisme tinggi masyarakat dalam menjalani hari-hari di tengah serangan Israel yang terus terjadi di Lebanon.
“Kunjungan Paus sangat penting bagi Lebanon. Kunjungan ini membawa kebaikan dan berkat... dan optimisme bagi rakyat Lebanon,” kata Claude Issa.
Sebelum perang berkecamuk, Lebanon terguncang oleh keruntuhan ekonomi yang dimulai pada 2019, dan ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut pada tahun berikutnya menewaskan lebih dari 220 orang dan melukai sekitar 6.500 orang.
Paus akan mengadakan doa hening di lokasi ledakan tersebut, yang pelakunya masih 'buram' hingga saat ini.
“Kunjungan Paus akan menyegarkan kembali hati rakyat dan membuat mereka merasa masih ada harapan di Lebanon,” sambung Issa.
Biara Santo Maron Annaya sekaligus lokasi makam Santo Charbel. Santo Charbel memiliki daya tarik yang luas di Lebanon, bahkan di luar komunitas Kristen. Banyak yang menganggapnya bukan hanya sebagai seorang pembuat mukjizat, tetapi juga sebagai simbol nasional.
Penggambaran santo berjanggut putih, matanya tertunduk saat berdoa, dan mengenakan jubah hitam, dapat ditemukan di rumah-rumah, kendaraan, dan tempat kerja.
Randa Saliba, 60, warga Lebanon, menyebut Santo Charbel sebagai "sebuah pesan kasih... dan wajah Lebanon."
Charbel lahir dengan nama Youssef Makhlouf di Lebanon utara pada tahun 1828 dan masuk Ordo Maronit Lebanon pada usia 23 tahun. Ia kemudian bergabung dengan Biara Santo Maron Annaya, tempat ia menjadi seorang pertapa dan menjalani kehidupan asketis.
Ia dinyatakan sebagai santo pada tahun 1977.
Saat ini para pekerja sibuk membenarkan jalan menuju Biara Santo Maron Annaya. Sementara para pengunjung, termasuk para perempuan berhijab, berkeliling situs, menyalakan lilin, atau berdoa dengan khusyuk kepada santo mereka.
Aroma dupa masih tercium di udara di Biara Santo Maron Annaya. Ketenangan biara batu itu hanya terganggu oleh suara pekerja melakukan restorasi makam Santo Charbel.
Kunjungan Paus Leo ke Lebanon menyusul kunjungan Benediktus XVI pada tahun 2012 dan Yohanes Paulus II pada tahun 1997.
Kunjungannya mencakup pertemuan dengan para pejabat senior di negara yang dilanda krisis tersebut, termasuk Presiden Lebanon Joseph Aoun, satu-satunya kepala negara Kristen di dunia Arab.
Di bawah sistem pembagian kekuasaan sektarian multi-pengakuan di Lebanon, jabatan Presiden Lebanon diperuntukkan bagi seorang Kristen Maronit.
Gereja Maronit Lebanon berada dalam persekutuan penuh dengan Roma.
Baca juga: