Tayang Tahun Depan, Film Buya Hamka 3 Akan Lebih Dulu Diperkenalkan ke Pelajar dan Santri
JAKARTA - Falcon Pictures menjalin kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) untuk memperkenalkan film biopik yang masih dinantikan penonton Tanah Air, “Buya Hamka 3”.
Seperti diketahui, film biopik yang disebut berdurasi tujuh jam itu dibagi ke dalam tiga volume, yang mana volume pertama tayang perdana pada April 2023 dan volume kedua pada Desember 2023.
Frederica selaku produser mengatakan, film Buya Hamka 3—meski belum menemukan tanggal pasti—direncanakan untuk tayang perdana di bioskop pada tahun 2026.
Namun sebelum benar-benar diperkenalkan ke publik luas, film tersebut—lewat kerja sama dengan Kemenbud—akan lebih dulu ditayangkan bagi pelajar dan santri di berbagai wilayah Indonesia.
"Kami bekerjasama dengan Kementerian Kebudayaan, dan Pak Menteri (Fadli Zon), untuk dapat disosialisasikan, agar bisa ditonton sama pelajar di seluruh Indonesia maupun para santri seluruh Indonesia,” kata Frederica, ditemui seusai special screening film Buya Hamka 3 di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 19 November.
“Nanti setelah itu, baru kami rilis secara nasional untuk Indonesia," tambah Frederica.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Erica—sapaan akrabnya—mengungkap bahwa langkah ini diambil untuk menjadikan kisah ulama besar seperti Buya Hamka sebagai suntikan inspirasi dan motivasi bagi generasi muda Indonesia.
Baca juga:
Strategi ini juga menunjukkan keseriusan Falcon Pictures dan Kemenbud dalam memaksimalkan nilai edukasi dan inspirasi dari sosok Buya Hamka, yang dikenal multitalenta sebagai ulama, penulis, wartawan, dan pendidik.
Di samping itu, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon yang berkesempatan menyaksikan special screening, memberikan pujian tinggi. Menurutnya, Buya Hamka 3 berhasil mencapai tingkat artistik yang luar biasa, sehingga sangat layak diapresiasi oleh masyarakat luas.
"Film ini, film biopik yang mudah-mudahan bisa mendapatkan apresiasi yang luar biasa besar dari masyarakat Indonesia," ujar Fadli.
Lebih lanjut, Fadli menekankan bahwa film ini bukan sekadar tontonan, namun juga mengandung banyak pelajaran, terutama terkait sejarah dan ekspresi budaya.
Keunggulan lain yang disorot Fadli Zon adalah kualitas skenario dan penataan musik. Skenario disebutnya sangat "smooth dan pas", berhasil mengambil segmen-segmen menarik dari perjalanan hidup Buya Hamka.
Selain itu, sentuhan penata musik Purwacaraka dinilai berhasil memberikan "roh" yang kuat ke dalam film. Perpaduan skenario yang apik dan musik yang mendalam ini menjadikan narasi biopik ini terasa hidup dan mengalir jernih, jauh dari kesan datar.
Mengenai kapan film ini bisa diperkenalkan ke pelajar dan santri, Menbud coba memberikan usulan waktu terbaik. "Mungkin di awal tahun (2026), sebelum puasa atau pada bulan puasa,” pungkasnya.