Buntut Ledakan SMAN 72, Pramono: Bullying Tak Boleh Terulang Kembali

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa kasus perundungan di lingkungan sekolah tidak boleh dibiarkan apalagi terulang kembali. Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu, yang kini tengah dalam penyelidikan kepolisian.

"Yang paling utama, yang bersifat perundungan atau bullying tidak boleh terulang kembali karena ini bisa menjadi motivasi atau pemicu," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 10 November.

Pramono mengatakan, hingga saat ini Pemprov DKI Jakarta masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari pihak kepolisian terkait penyebab ledakan tersebut. Ia menegaskan, Pemprov tidak akan berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada aparat berwenang.

"Sampai hari ini, karena ini yang berwenang sepenuhnya adalah kepolisian, mari kita tunggu bersama-sama apa yang sebenarnya terjadi. Jadi untuk itu saya tidak komentar, tetapi sekali lagi kita tunggu apa yang menjadi temuan yang sebenarnya," ujarnya.

Evaluasi dan Pembelajaran Daring

Usai insiden tersebut, Dinas Pendidikan DKI Jakarta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan belajar di SMAN 72, termasuk terkait pengawasan barang bawaan siswa dan potensi munculnya perilaku perundungan di lingkungan sekolah.

Pramono memastikan seluruh siswa saat ini melaksanakan pembelajaran secara daring untuk sementara waktu, hingga kondisi sekolah dinyatakan aman dan siap digunakan kembali.

"Memang hari ini dibutuhkan untuk (belajar) daring. Hari ini kita izinkan (siswa SMAN 72 Jakarta) untuk (belajar) daring," ucap Pramono.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, menjelaskan kegiatan belajar daring akan difokuskan pada proses pemulihan mental siswa sebelum kembali beraktivitas di sekolah. Ia menekankan pentingnya memberikan ruang aman dan kegiatan yang bersifat rekreatif bagi para siswa.

"Pembelajaran akan difokuskan pada proses pemulihan dan persiapan mental siswa sebelum kembali ke sekolah. Pembelajaran di kelas nantinya akan diisi oleh wali kelas dan psikolog dengan pembelajaran yang dikemas dengan memberikan ruang interaksi lebih dekat, seperti olahraga dan seni, agar anak-anak dapat pulih dan kembali merasa aman," kata Nahdiana dalam keterangannya.

Ia menambahkan, sebelum kegiatan belajar dimulai, pihak sekolah akan mengundang orang tua siswa untuk memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah pemulihan yang dilakukan bersama pihak sekolah, psikolog, serta unsur wilayah setempat.

"Saat ini, para petugas dari Dinas Kesehatan dan Dinas PPAPP telah berjaga di lokasi untuk memastikan pendampingan berjalan baik," tutur Nahdiana.

Selain memastikan keberlangsungan belajar, Pemprov DKI juga memusatkan perhatian pada kondisi fisik dan psikologis para korban. Hingga kini tercatat 30 korban masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, yakni 14 orang di RSIJ Cempaka Putih, 15 orang di RS Yarsi, dan 1 orang di RS Pertamina Jaya.

Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Iin Mutmainnah, menyebut pihaknya telah menyiapkan dukungan psikologis jangka panjang bagi siswa dan tenaga pengajar. Pendampingan itu termasuk saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung.

"Kami akan menyiapkan dukungan psikolog untuk mendampingi anak-anak selama PJJ dan proses pemulihan di sekolah," ujar Iin.