BGN Perkuat Pemahaman Daerah untuk Wujudkan Program Makan Bergizi Gratis yang Tepat Sasaran

JAKARTA - Upaya memperkuat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) Republik Indonesia. Melalui sosialisasi di Hotel Mercure Batavia, Jakarta Utara, Sabtu 1 November, BGN menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah penerima manfaat, tetapi juga oleh tata kelola dan standar gizi yang diterapkan di setiap daerah.

Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN, Dr. Ir. Sitti Aida Adha Taridala, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian sosialisasi nasional yang diinisiasi oleh Kedeputian Sistem dan Tata Kelola. Tujuannya, agar semua pihak yang terlibat memahami aturan serta tanggung jawab dalam pelaksanaan program.

“Kegiatan ini dilakukan oleh Kedeputian Sistem dan Tata Kelola. Tujuannya untuk menyosialisasikan berbagai aturan terkait program MBG supaya semua pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama,” jelas Sitti Aida.

Kegiatan ini dihadiri oleh mitra yayasan, Kepala Regional (Kareg), Koordinator Wilayah (Korwil), Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), ahli gizi, serta akuntan. Menurut Sitti, kehadiran lintas peran tersebut penting untuk membangun sinergi antara pemerintah pusat dan daerah agar pelaksanaan program lebih konsisten.

Ia juga menjelaskan, sejumlah ketentuan dalam program MBG kini disesuaikan dengan kondisi terkini di lapangan dan hasil evaluasi dari berbagai daerah.

“Kita ingin pelaksanaan program MBG ini dilakukan dengan baik dan benar, supaya makanan yang disajikan aman, sehat, bergizi, dan bermanfaat bagi penerima manfaat,” ujarnya pada awak media yang hadir.

Selain menyoroti aspek teknis penyajian makanan, BGN juga memperkuat pengawasan terhadap keamanan pangan. Dalam setiap kegiatan sosialisasi, lembaga ini melibatkan BPOM dan Dinas Kesehatan untuk memberikan panduan mengenai prosedur pengolahan dan distribusi bahan pangan yang aman.

BGN turut menambahkan sesi pelatihan mengenai tata kelola keuangan, agar pengelolaan anggaran program lebih akuntabel dan bebas dari potensi penyimpangan. Sitti menilai, program MBG tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi anak-anak, tetapi juga mampu menghidupkan ekonomi daerah.

“Program MBG juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal. Karena itu, bahan pangan semaksimal mungkin diperoleh dari produksi lokal agar membuka lapangan kerja dan peluang usaha di daerah,” katanya.

Namun, ia mengakui bahwa pendekatan tersebut tidak bisa diterapkan secara seragam di semua wilayah. Di daerah perkotaan seperti Jakarta yang minim lahan pertanian, sebagian bahan pangan perlu didatangkan dari luar.

“Dalam teori ekonomi, tidak masalah jika mendatangkan dari luar ketika harganya lebih efisien,” imbuhnya.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan di kota besar, BGN juga mengupayakan solusi melalui pengembangan urban farming. Sitti menyebut, konsep pertanian vertikal menjadi salah satu alternatif yang bisa dijalankan masyarakat perkotaan.

“Dengan lahan minimalis kita bisa vertical farming, memanfaatkan ruang yang ada,” ucapnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa pelaksanaan urban farming tidak dijalankan langsung oleh SPPG, melainkan oleh kelompok masyarakat yang memiliki kapasitas di bidang tersebut.

Dalam jangka panjang, BGN berupaya memperkuat kolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk membentuk kelompok tani lokal di seluruh Indonesia. Produksi mereka nantinya akan menjadi sumber bahan baku bagi pelaksana program MBG di daerah, sekaligus menciptakan ekosistem pangan yang berkelanjutan.

Sitti juga menanggapi adanya sejumlah sekolah elit yang memilih tidak mengikuti program tersebut. Menurutnya, keputusan itu sah selama pihak sekolah sudah memiliki sistem penyediaan makanan bergizi yang baik.

“Program makan gratis ditujukan untuk semua anak. Tapi jika ada sekolah yang menolak karena sudah memiliki mekanisme sendiri dalam penyediaan makanan bergizi, itu sah-sah saja. Tidak ada paksaan,” tegasnya.

Melalui penguatan sosialisasi, koordinasi lintas sektor, dan dukungan masyarakat, BGN berharap program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi gerakan nasional yang tidak hanya menyehatkan anak-anak Indonesia, tetapi juga memperkuat perekonomian di tingkat lokal.