Eksklusif Jihan Fahira: Dulu Primadona Layar Kaca, Kini Ingin Jadi Manfaat di Sisa Usia
JAKARTA - "Saya ingin juga sisa usia ini ada manfaatnya. Karena semuanya sudah dilewati, sudah," kalimat tersebut terlontar dari Jihan Fahira, figur yang dijuluki Ratu Sinetron di masanya. Kini ia memasuki fase hidup berbeda, tak lagi eksis di layar kaca. Kini ia menjadi anggota DPD RI, dan fitrahnya, sebagai seorang istri dan serta ibu yang merawat keluarga.
Puluhan judul sinetron telah dibintangi perempuan berdarah Sunda ini. Di akhir 90an, wajahnya hampir tak pernah menghias layar kaca, beradu peran dengan beberapa nama tenar lain seperti Lulu Tobing, Ari Wibowo hingga Jeremy Thomas.
Setelah 30an judul sinetron, perlahan ia mulai menarik diri dari dunia hiburan. Hingga pada 2014 saat hamil anak keempat, Jihan benar-benar memutuskan berhenti sepenuhnya atas saran dari suami, Primus Yustisio. Anak-Anak Manusia menjadi daftar sinetron terakhir yang ia perankan, setidaknya untuk saat ini.
"Kalau dulu itu, terakhir 2014, karena memang hamil anak keempat, jadi suamiku bilang, udah di rumah aja dulu. Temenin anak-anak, anak-anak masih kecil-kecil. Karena kan kalau syuting itu kan sudah dari pagi sampai malam. Ya nggak apa-apa juga sih, kan punya anak kecil ya harus ditungguin," ujar Jihan Fahira dalam wawancara khusus dengan VOI, 22 Oktober.
Jihan Fahira mengaku mulai merindukan suasana syuting sinetron. Seiring anak-anaknya yang beranjak dewasa, ia pun tak kemungkinan untuk kembali ke dunia yang membesarkan namanya tersebut.
Baca juga:
"Ada lah, kangen dengan crowdnya, kangen sama teman-teman yang ketawa bareng, kadang-kadang sampai begadang gitu kan. Sama semualah, semua terak-terakan di lokasinya gitu. Nggak masalah, suatu saat main sinetron lagi. Tapi kalau memang momennya ada, jadi nggak menutup kemungkinan," tegasnya.
Meski pernah menjadi primadona sinetron, Jihan merasa tetap perlu beradaptasi dan mempelajari situasi terkini industri hiburan. Selama 10 tahun terakhir, ia menyadari dunia televisi telah mengalami banyak perubahan.
"PR-nya, ya karena yang saya tahu sekarang PH dulu sama PH sekarang tuh agak berbeda sistemnya gitu loh.
Kalau dulu kan memang kolaborasi dengan stasiun TV-nya tuh banyak gitu ya, pakai slot jam prime time-nya. Nah sekarang saya nggak tahu kalau yang sekarang tuh sistemnya seperti apa. Karena terakhir yang saya dengar kan lebih ke industri, jadi cepat. Kalau dulu kan zaman saya ya stripping ada, tapi juga fokus dengan skenario," kata Jihan.
Tentang Cita-cita, Amanah dan Memberi Manfaat
Terpilih sebagai anggota DPD RI dari Dapil Jawa Barat, Jihan Fahira kini berusaha menjalankan amanah sebaik mungkin. Meski baginya menjadi pejabat bukan hal yang ia cita-citakan, keinginan untuk memberi manfaat bagi sesama menggerakkan hati Jihan.
"Nggak yang memimpikan dari jauh-jauh hari gitu, Cuma momentum aja. Saya coba karena kalau DPD itu kan harus ada dukungan KTP. Minimal tuh lima ribu KTP orang suara gitu. Dan ini kan di-screening, diverifikasi gitu. Dan alhamdulillah kemarin itu tiga belas ribu yang setuju gitu. Jadi saya pikir saya coba, Bismillah gitu loh. Karena kepengen juga sisa usia ini ada manfaatnya. Karena semuanya udah dilewatin, udah," papar artis kelahiran 6 Januari 1978 tersebut.
Selain menjalankan tugas pengawasan kebijakan pajak dan keuangan sebagai anggota Komite IV, Jihan Fahira juga kerap terjun langsung ke masyarakat untuk sosialisasi empat pilar kebangsaan, anti pembulian, KDRT dan isu sosial lainnya. Di sini ia melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang, yakni sebagai ibu, istri, netizen dan anggota DPD.
"Saya pengen sekali mengurangi KDRT, terus anak-anak zaman sekarang remaja jangan berantem terus. Buat para guru juga kan banyak juga liat di TV kan. Banyak di berita-berita juga soal pencabulan santri atau segala macem gitu kan. Kayaknya miris banget. Jadi dari semua ini sih kalau menurut saya gitu. Tidak hanya dari murid, dari para guru juga," kata Jihan.
Dipercaya oleh 1,5 juta pemilih adalah sebuah tanggung jawab besar. Selain berusaha sebaik mungkin menyuarakan daerahnya, Jihan hanya punya satu prinsip yang ia bawa dalam melaksanakan tugasnya tersebut.
"Ya gak usah aneh-aneh lah. Itu pun. Ujian pasti ada ya. Jadi gak usah cari masalah. Mungkin bahasa kasarnya itu. Tidak usah mencari masalah. Karena tidak dicari pun masalah. Ujian itu pasti datang. Jadi gak usah banyak tingkah. Satu. Lakukan yang benar-benar. Baik," jawabnya tegas.
Dengan fokus pada tugas dan prinsipnya, Jihan tak merasa pandangan skeptis tentang selebriti yang menjadi pejabat publik berdampak pada dirinya.
"Nggak terlalu berdampak sih karena saya berbuat juga bukan buat bergaya-gaya. Maksudnya mumpung ada di lembaga ini saya benar-benar pengen ke bawah. Karena kalau bergaya-gaya kan sudah pernah dari tahun 93. Jadi yang saya lakukan adalah saya ingin hadir di tengah-tengah mereka," urainya.
Di usianya sekarang serta pengalamannya di dunia hiburan dan kenegaraan, Jihan Fahira hanya punya satu cita-cita terakhir, sebuah harapan yang ingin ia capai untuk diri dan keluarga tercinta.
Mati khusnul khotimah lah. Kalau saya sekarang. Kalau sukses orang kan lain-lain. Kan definisi sukses setiap orang itu lain-lain. Kalau saya sebagai ibu dan istri. Saya pengen anak saya selamat dunia akhirat, jauh dari bencana dunia. Karena kami yakin semuanya sudah ada yang ngatur Allah. Yang belum diatur adalah yang diberikan kebebasan adalah pilihan, mau baik atau mau buruk. Itu pilihan. Tapi kalau rezeki. Usia. Mau pusing kita pikirin pun kalau sudah jatuh tempo ya selesai. Iya kan?," pungkas sang senator.