Buntut Keracunan MBG, Prabowo Instruksikan BGN untuk Konsolidasikan SPPG di Seluruh Indonesia
JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengaku mendapat instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengonsolidasikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.
Arahan tersebut menyusul kasus keracunan akibat program tersebut.
Awalnya, Dadan dijadwalkan hadir dalam acara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).
Namun, Dadan tidak hadir lantaran harus menjalankan instruksi presiden tersebut.
“Mohon maaf saya hari ini tidak bisa hadir secara fisik karena saya mendapatkan instruksi dari Presiden untuk segera melakukan konsolidasi untuk dengan seluruh SPPG, seluruh wilayah Indonesia agar masalah yang timbul belakangnya ini dapat segera diatasi,” katanya dalam acara Zona Pangan, di Jakarta, Selasa, 7 Oktober.
Mengutip arahan Presiden Prabowo Subianto, Dadan bilang program makan bergizi gratis merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) masa depan untuk menciptakan generasi emas dan sehat.
Mengingat penduduk Indonesia sampai sekarang masih tumbuh 6 orang per menit atau 3 juta per tahun, dan masih akan terus tumbuh mencapai 324 juta di tahun 2045.
Mengacu pada data tersebut, Dadan bilang, penduduk Indonesia tidak lepas dari orang tua yang tingkat pendidikannya hanya 9 tahun saja.
Contohnya, rerata pendidikan orang tua di Jawa Barat hanya 8,8 tahun, yang berarti mayoritas hanya lulusan SD.
Dadan mengatakan, kelompok masyarakat tersebut jadi penyokong utama pertumbuhan penduduk Indonesia, dengan angka kelahiran anak yang cukup tinggi.
“Karena anggota rumah tangga kelas miskin yang pendapatannya di bawah Rp1,2 juta per bulan itu angkanya 4,78. Itu artinya kalau ada 100 keluarga miskin, maka 78 keluarga anaknya 3 (orang), 22 keluarga anaknya 2 (orang),” ucapnya.
Berangkat dari data tersebut, Dadan bilang, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2045 bakal banyak ditopang oleh masyarakat yang berasal dari keluarga miskin.
“Jadi pertumbuhan penduduk Indonesia di tahun 2045 tidak akan disokong oleh keluarga kelas atas dan kelas menengah, tapi pertumbuhan akan disokong oleh keluarga kelas miskin, dan tetap miskin,” tuturnya.
Baca juga:
Dadan mengungkapkan sekitar 60 persen anak yang ditemui di lapangan bahkan tidak punya akses terhadap menu makan bergizi seimbang.
“Jadi kalau mereka makan biasanya asal ada nasi, ada kerupuk, ada mie, ada bala-bala (bakwan), ada kentang. Nah, 60 persen dari mereka juga hampir tidak pernah minum susu karena tidak mampu beli susu. Sebab itulah, maka program (MBG) ini kita harus lakukan,” tuturnya.