Keterlibatan Konglomerat dalam Patriot Bond: Antara Investasi dan Relasi Politik
Menurutnya instrumen ini lebih berperan sebagai sinyal politik-ekonomi, di mana keuntungan yang dicari bukan hanya berupa kupon, tetapi juga berupa penguatan hubungan strategis dengan negara serta akses ke pipeline proyek-proyek nasional.
"Dengan demikian, keputusan tokoh bisnis tersebut merefleksikan kombinasi motif ekonomi, reputasi, dan political insurance," jelasnya kepada VOI, Kamis, 2 Oktober.
Ia menyampaikan dari sisi pasar keuangan, mobilisasi dana melalui Patriot Bond memiliki implikasi ganda yaitu penyerapan dana sebesar Rp50 triliun dapat berpotensi mengaktivasi likuiditas yang sebelumnya menganggur (idle), sehingga berpotensi mendukung pembiayaan proyek infrastruktur strategis.
Namun di sisi lain, ia menyampaikan terdapat risiko crowding-out, terutama jika sumber dana yang digunakan berasal dari pengalihan investasi produktif atau portofolio di pasar modal.
"Distorsi harga dan persepsi pasar juga mungkin muncul apabila obligasi ini lebih diposisikan sebagai instrumen simbolik ketimbang instrumen berbasis risiko dan imbal hasil yang wajar," ujarnya.
Rizal juga menekankan bahwa risiko fiskal tetap harus diwaspadai, meskipun dana dihimpun dari sektor swasta, adanya skema jaminan seperti Power Purchase Agreement (PPA), tipping fee, atau intervensi fiskal ketika proyek mengalami kegagalan, berpotensi menciptakan contingent liabilities yang besar bagi APBN.
SEE ALSO:
Menurutnya hal ini diperlukan desain tata kelola yang ketat, termasuk pembatasan penggunaan dana (ringfencing), mekanisme pengadaan yang transparan, serta audit independen yang berkelanjutan.
Sebelumnya, beredar selebaran dokumen menyangkut ada 46 daftar konglomerat RI sebagai investor dari Patriot Bond yang diterbitkan Danantara, dalam dokumen tersebut, terhimpun dana sebesar Rp51,75 triliun per September 2025.
Dalam dokumen tersebut, nama Anthony Salim, Prajogo Pangestu, Sugianto Kusuma, Franky Widjaja, Boy Thohir dan Edwin Soeryadjaya, Budi Hartono serta Low Tuck Kwong menjadi posisi teratas dengan membeli patriot bond senilai Rp3 triliun.
Sisanya, ada nama James Riady, Hilmi Panigoro, Gunawan Lim dan Eddy Sariaatmadja dengan membeli patriot bond masing-masing senilai Rp1,5 triliun.