Hamas: Serangan Israel ke Qatar Upaya Gagalkan Negosiasi Gencatan Senjata

JAKARTA - Serangan Israel yang menargetkan para pemimpin Hamas di Doha, Qatar dianggap sebagai upaya untuk menggagalkan negosiasi gencatan senjata.

Tapi serangan Israel disebut tidak akan mengubah persyaratan kelompok Palestina tersebut untuk mengakhiri perang di Gaza.

Israel berusaha membunuh para pemimpin politik Hamas dengan serangan udara di Doha pada Selasa.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, pejabat Hamas, Fawzi Barhoum, mengatakan serangan itu bukan hanya upaya untuk membunuh delegasi negosiasi, tetapi juga merupakan pukulan telak bagi keseluruhan proses dan pesan yang jelas untuk menolak kesepakatan gencatan senjata.

Ia juga menuduh Israel menargetkan upaya mediasi Qatar dan Mesir.

"Serangan ini merupakan konfirmasi terang-terangan dari Netanyahu dan kelompok kriminalnya atas penolakan mereka untuk mencapai kesepakatan apa pun dan desakan mereka untuk menggagalkan semua upaya regional dan internasional yang bertujuan menghentikan genosida," kata Barhoum dilansir Reuters, Kamis, 11 September.

Namun, kelompok tersebut belum secara resmi mengumumkan akan menutup pintu bagi perundingan di masa mendatang.

Barhoum mengatakan serangan itu menargetkan delegasi negosiasi kelompok tersebut saat mereka sedang membahas proposal gencatan senjata baru yang disampaikan oleh Perdana Menteri Qatar sehari sebelumnya.

"Pada saat serangan teroris terjadi, delegasi negosiasi sedang dalam proses membahas tanggapan mereka terhadap proposal tersebut," ujarnya.

Barhoum menegaskan kembali tuntutan utama Hamas: gencatan senjata penuh, penarikan pasukan Israel dari Gaza, pertukaran tawanan dengan sandera, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong kesepakatan "all or nothing" yang akan membebaskan semua sandera sekaligus dan Hamas menyerah.

Hamas mengatakan lima anggotanya tewas dalam serangan itu, termasuk putra kepala Hamas di Gaza yang diasingkan dan negosiator utama Khalil al-Hayya.