Dikecam Usai Tampilkan Model Bergestur Mata Sipit, Swatch Minta Maaf
JAKARTA - Perusahaan jam tangan asal Swiss, Swatch, mendapat kecaman besar dari warga China setelah merilis kampanye iklan yang dianggap rasis. Dalam iklan tersebut, seorang model pria keturunan Asia terlihat menarik ujung matanya. Ini sebuah gestur yang secara luas dianggap menghina orang Asia.
Tak butuh waktu lama, gelombang kemarahan pun melanda media sosial China. Banyak warganet mengecam keras foto promosi tersebut dan menuntut Swatch bertanggung jawab.
"Citra merek ini sudah hancur. Swatch pikir cukup minta maaf dan semua selesai? Tidak semudah itu,” tulis salah satu pengguna Weibo, dikutip dari laman Daily Mail.
Swatch pun segera mengambil langkah untuk meredakan situasi. Dalam pernyataan resmi di Instagram dan platform China Weibo, perusahaan menyampaikan permintaan maaf dan menarik seluruh kampanye iklan tersebut secara global.
“Kami sungguh meminta maaf atas ketidaknyamanan atau kesalahpahaman yang mungkin ditimbulkan,” tulis Swatch.
Namun, permintaan maaf itu tak cukup untuk meredam kemarahan publik. Banyak pengguna masih menyerukan boikot terhadap merek-merek di bawah Swatch Group seperti Blancpain, Longines, dan Tissot.
Seorang pengguna Weibo dengan lebih dari satu juta pengikut menuduh Swatch melakukan rasisme terhadap orang China dan meminta otoritas untuk memberikan sanksi kepada perusahaan tersebut.
Kemarahan ini datang di tengah lesunya penjualan Swatch di China, salah satu pasar terbesarnya. Pada Juli lalu, perusahaan melaporkan penurunan penjualan sebesar 11,2 persen pada paruh pertama tahun ini, yang disebut Swatch sepenuhnya disebabkan oleh lemahnya permintaan konsumen di China.
Baca juga:
Ini bukan pertama kalinya Swatch tersandung kontroversi. Tahun lalu, Swatch juga berseteru dengan pemerintah Malaysia ketika beberapa produknya disita, karena mengandung unsur LGBTQ. Pengadilan akhirnya memutuskan bahwa jam tangan tersebut harus dikembalikan ke perusahaan.
Kasus Swatch ini menambah daftar panjang skandal iklan merek asing di China. Pada 2018, Dolce & Gabbana juga sempat menuai protes keras karena menampilkan perempuan China yang kesulitan makan makanan Italia dengan sumpit. Model yang terlibat dalam iklan itu mengaku kariernya hampir hancur, karena kontroversi tersebut.
Tahun lalu, Dior juga menghadapi kecaman atas foto model yang membuat gestur serupa dengan iklan Swatch. Bahkan dua tahun sebelumnya, seorang fotografer Tiongkok meminta maaf karena dianggap tidak peka setelah fotonya untuk label Prancis tersebut menuai kritik.
Kemarahan publik terhadap Swatch menunjukkan perusahaan asing kini harus lebih berhati-hati dalam membuat materi pemasaran, terutama di pasar yang sensitif terhadap citra budaya seperti China.