Utusan Khusus AS Bakal Kunjungi Rusia Jelang Batas Tenggat Waktu Trump
JAKARTA - Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dikabarkan akan mengunjungi Rusia pada Rabu lusa. Trump sebelumnya menetapkan batas waktu Jumat bagi Rusia untuk menyetujui penghentian perang Ukraina atau menghadapi sanksi baru.
Belakangan terjadi ketegangan setelah Trump memerintahkan 2 kapal selam nuklir bergerak ke posisi strategis. Musababnya, Trump tersinggung dengan pernyataan mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.
"Berdasarkan pernyataan yang sangat provokatif dari Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, saya telah memerintahkan dua Kapal Selam Nuklir untuk ditempatkan di wilayah yang tepat, untuk berjaga-jaga jika pernyataan bodoh dan provokatif ini lebih dari sekadar itu," tulis Trump di Truth Social dilansir ABC News, Sabtu, 2 Agustus.
"Kata-kata sangat penting, dan seringkali dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan, saya harap ini tidak akan menjadi salah satu contohnya," sambungnya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengunggah ulang pernyataan Trump di X.
Medvedev baru-baru ini menyuarakan pendapatnya di media sosial mengenai tenggat waktu yang ditetapkan Trump bagi Rusia untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Ukraina atau menghadapi sanksi berat.
"Trump sedang memainkan permainan ultimatum dengan Rusia: 50 hari atau 10 hari. Dia harus ingat 2 hal: 1. Rusia bukanlah Israel atau bahkan Iran. 2. Setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri. Jangan terjebak dalam situasi seperti Sleepy Joe!" tulis Medvedev di X awal pekan ini.
Trump sebelumnya mengatakan akan memberlakukan sanksi baru terhadap Moskow dan negara-negara yang membeli ekspor energinya—yang terbesar adalah China dan India—kecuali Rusia bertindak sebelum 8 Agustus untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 3,5 tahun.
Trumph mengutarakan rasa frustrasinya yang semakin memuncak terhadap Putin, menuduhnya "omong kosong" dan menyebut serangan terbaru Rusia terhadap Ukraina sebagai "menjijikkan".
Baca juga:
Rusia Merespons
Kremlin mengingatkan semua pihak harus berhati-hati terhadap retorika nuklir. Ini menjadi respons pertama Rusia terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan pergerakan kapal selam nuklir AS.
"Dalam kasus ini, jelas bahwa kapal selam Amerika sudah bertugas tempur. Ini adalah proses yang sedang berlangsung, itu yang pertama," kata Peskov kepada para wartawan dilansir Reuters, Senin, 4 Agustus.
"Namun secara umum, tentu saja, kami tidak ingin terlibat dalam kontroversi semacam itu dan tidak ingin mengomentarinya dengan cara apa pun. Tentu saja, kami percaya bahwa setiap orang harus sangat, sangat berhati-hati dengan retorika nuklir,” sambung dia.
Peskov mengatakan Rusia tidak meganggap pernyataan Trump sebagai tanda eskalasi ketegangan nuklir.
"Kami tidak yakin bahwa kami sedang membicarakan eskalasi apa pun sekarang. Jelas bahwa isu-isu yang sangat kompleks dan sangat sensitif sedang dibahas, yang tentu saja, dirasakan sangat emosional oleh banyak orang," katanya.
Peskov menolak menjawab langsung ketika ditanya apakah Kremlin telah mencoba memperingatkan mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev untuk meredakan pertengkaran lewat media sosial dengan Trump.
"Dengar, di setiap negara, para pemimpin memiliki sudut pandang yang berbeda tentang peristiwa yang sedang terjadi, sikap yang berbeda. Ada orang-orang yang sangat, sangat keras kepala di Amerika Serikat dan di negara-negara Eropa, jadi ini selalu terjadi," katanya.
"Tetapi yang terpenting, tentu saja, adalah posisi Presiden (Vladimir) Putin. Anda tahu bahwa di negara kami, kebijakan luar negeri dirumuskan oleh kepala negara, yaitu, Presiden Putin,” sambung Peskov.