Penggunaan GenAI Melonjak, Picu Ancaman Baru terhadap Keamanan Data
JAKARTA - Palo Alto Networks baru saja merilis laporan State of Generative AI 2025, yang mengungkap adanya lonjakan lalu lintas Generative AI (GenAI) yang mengejutkan sebesar 890 persen pada tahun 2024.
Dalam laporan ini, Palo Alto Networks melihat bahwa Kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, sedang mengalami percepatan yang pesat dalam adopsi AI dan GenAI.
"Adopsi AI menawarkan peluang transformatif di seluruh sektor. Namun, kami juga melihat adanya attack surface yang berkembang, terutama dengan penggunaan aplikasi GenAI yang berisiko tinggi di sektor infrastruktur penting,” ujar Tom Scully, Director and Principal Architect for Government and Critical Industries, Asia Pacific & Japan, at Palo Alto Networks.
Berdasarkan analisis traffic dari 7.051 pelanggan perusahaan global, laporan ini menemukan bahwa traffic GenAI meningkat lebih dari 890 persen pada tahun 2024.
Fenomena ini semakin menguat setelah peluncuran model DeepSeek-R1 pada Januari 2025, yang mendorong lonjakan traffic terkait DeepSeek hingga 1.800 persen hanya dalam dua bulan.
Namun, pertumbuhan pesat ini turut disertai peningkatan risiko, termasuk insiden kehilangan data (data loss prevention/DLP) yang kini mencakup 14 persen dari total insiden keamanan data—lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu ancaman terbesar yang diidentifikasi adalah fenomena “Shadow AI”, yakni penggunaan GenAI secara tidak sah tanpa persetujuan tim IT atau keamanan. Praktik ini menimbulkan blind spot baru dalam pengawasan data sensitif.
Situasi ini semakin mengkhawatirkan di sektor infrastruktur penting dan pemerintahan, di mana model AI yang digunakan masih rentan terhadap serangan jailbreak yang dapat menghasilkan konten berbahaya, termasuk materi ofensif dan instruksi untuk tindakan ilegal.
Laporan ini juga menyoroti risiko spesifik di sektor industri tertentu, seperti teknologi dan manufaktur, yang menyumbang 39 persen dari seluruh transaksi coding menggunakan AI.
Baca juga:
- Ada Kaitan dengan Elon Musk, Alasan Batalnya Pencalonan Jared Isaacman Sebagai Pemimpin NASA Terungkap
- Teori Difusi Inovasi: Berikut Pengertian, Tahapan, dan Penerapannya
- Nvidia Menjadi Perusahaan Publik Pertama yang Mencapai Kapitalisasi Pasar 4 Triliun Dolar AS
- Pemerintah Ceko Larang Penggunaan DeepSeek di Administrasi Publik karena Kekhawatiran Keamanan Data
Tingginya ketergantungan pada kekayaan intelektual membuat industri ini menghadapi risiko tambahan terhadap kebocoran data strategis. Untuk itu, perlu perlindungan yang memadai untuk mengantisipasi ancaman ini.
“Tanpa adanya perlindungan dan kontrol keamanan yang memadai, aplikasi GenAI dapat menjadi vektor bagi serangan siber,” jelas Adi Rusli, Country Manager, Indonesia, Palo Alto Networks lebih lanjut.
Menurutnya, kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan akan membuka peluang bagi organisasi di Indonesia untuk menanamkan kepercayaan, transparansi, dan akuntabilitas untuk strategi AI mereka.